Jumat Keramat nan Dahsyat

#Originally posted at 17 December 2010

Well, tanggal yang pertama kali aku tandain besar-besar dan sejelas-jelasnya di kalender adalah tanggal 17 Desember ini. Bertepatan jatuh di hari Jumat, banyak doa baik yang kupanjatkan khusus untuk tanggal ini. Apalagi kalo bukan soal skripsi. Ya, ini adalah tanggal keramat bagi beberapa jurusan di fakultasku yang mewajibkan mahasiswanya yang dalam masa penyelesaian tugas akhir skripsi untuk mengumpulkan naskah siap uji, beserta seluruh kelengkapan administratif yang diperlukan pra sidang.

Sebelum bercerita tentang betapa dahsyatnya hari Jumat pekan ini, rewind sebentar deh ke beberapa hari sebelumnya. Oke, skripsiku selesai. Tapi nggak sampe situ aja dong. Butuh banget tanda tangan sakti dari dosen pembimbingku, Mbakku tersayang. Beberapa hari sebelumnya aku gagal bertemu Beliau karena satu dan lain hal. Sempat Beliau tidak ada di tempat, sempat tak ada kabar ketika kau menghubungi ponselnya, dan sempat juga aku yang tak bersiap di kampus karena belum selesai dengan segala perintilan yang harus ditambahkan dalam naskah siap ujiku. Hingga kamis, sehari sebelum deadline pengumpulan naskah skripsi siap uji di jurusan, alhamdulillah berita baik kudapati dengan nikmatnya. Di detik menjelang senja mengakhiri waktunya berada, sebuah tanda tangan tanda acc skripsi kudapat dari Dosen Pembimbing. Rasanya senang bukan main. Sebelumnya aku hampir tak bisa diajak bicara, diam sejuta bahasa. Ekspresiku kelu begitu saja. Datar. Bagaimana tidak, teman-temanku, bahkan hampir seluruh temanku yang berjuang di semester ini menyelesaikan skripsi telah mendapat tanda pengesahan dari pembimbing mereka. Sementara aku masih diambang batas keraguan untuk bisa sidang semester ini. Allah bersamaku, kembali aku diberi nikmat-Nya. Sore itu menjadi penutup yang indah untuk perjuanganku selama beberapa waktu begadang tanpa tidur yang cukup. Dengan kantung mata sebesar biji jengkol, air mataku hampir tumpah ketika melihat pembimbingku menorehkan tanda tangannya di halaman cover skripsiku. Allahu Akbar.

Sungguh aku berterima kasih atas pengertian, perhatian, bimbingan, dan dorongan dari Dosen Pembimbing Skripsiku. Aku menyempatkan foto bersama dengan Beliau sebelum melakukan Gladi resik Wisuda pada awal Februari. Ini dia fotonya, kami cantik kan? 😉

with Mbak Milla 🙂

Oke, meski acc sudah diterima, ternyata ada beberapa bagian yang masih harus menjadi catatan bagiku. Dengan sabarnya pembimbingku memberitahu bagian mana dari skripsiku yang perlu diperbaiki sebelum diberikan ke jurusan untuk ditentukan jadwal pengujiannya. Aku bertekad memperbaikinya dengan segenap daya yang aku punya, meski tak ada waktu banyak tersisa. Sebelum pukul 4 sore di hari Jumatnya, 4 eksemplar naskah siap uji harus sudah diserahkan ke jurusan. Semalam suntuk aku berjuang menghiraukan kantuk dan raga yang mulai merengek demi perbaikan skripsiku yang siap uji. Pikirku, ini kali terakhir aku untuk berjuang, sebelum bertempur salam arena sidang penguji.

Hingga Jumat pun datang. Pagi itu aku masih saja menge-print naskahku, beberapa kali terjadi kesalahan, membuat dadaku berpacu sedemikian hebatnya. Aku harus bertarung mengejar waktu, memikirkan waktu penyelesaian print-an di printer rumah yang kadang lemot, berharap tintanya cukup setidaknya hingga aku selesai mencetak bagian penting, lalu harus mengalokasikan waktu untuk mandi dan makan, karena sejujurnya aku menunda dua kegiatan itu sedari malam. Juga harus kupikirkan alokasi waktu tempuh Pondok Gede – Depok untuk mencapai kampus perjuanganku, juga waktu nge-tem di tempat fotokopian untuk menggandakan naskah dan penjilidannya.

It’s wrap! Pukul 11.30 aku tiba di Depok, langsung kusambangi tempat fotokopi langgananku, meminta pegawainya mengerjakan pesananku secepat mungkin, ya tentunya dengan biaya yang lebih dari biasanya. Selesai semua yang aku perlukan dari tempat fotokopi tersebut, Depok dilanda hujan besar, sangat besar. Beberapa lama kutunggu hingga hujan mereda, lalu kuberanikan diri dengan beban sekian kilogram di tangan kana dan kiriku berisi naskah siap uji yang akan kuserahkan ke jurusan. Dan tibalah aku disana. Dengan senyum yang mengembang lebar, nafas yang maih tersengal, dan kelegaan yang luar biasa, aku menyerahkan 4 bundel naskah skripsi siap uji pukul 12.15.

Selesai membenahi urusan pribadi, beberapa temanku datang menyelesaikan tugas yang sama. Kelegaan terlihat jelas dimata kami, juga kelelahan yang terbaca. Bismillah, semoga naskah siap uji ini dapat kami pertanggungjawabkan sebaik mungkin dalam sidang skripsi yang belum diketahui jadwalnya. Dan semoga mendapat tim penguji yang baik hati, hihi. Amin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s