Obrolan Malam Samping Kali

Jika kuhitung sejak perpisahan itu, ini adalah kali pertama buatku bertemu dengan masa lalu. Terlibat perbincangan yang cukup hangat, yang memang kami rencanakan sebelumnya. Bukan untuk melarutkan atau bahkan menarik diri kembali ke masa-masa bersama, tapi untuk saling menerima dan menghargai penuh perjalanan yang kami lewati hingga akhirnya bisa kembali duduk semeja. Ya, malam itu kami bertukar tawa. Sedikit mengambil petikan masa lalu yang dulunya berupa tragedi, lalu masing-masing menertawakannya layaknya sebuah komedi. Dan inilah hidup, beserta waktu yang tak pernah lelah berusaha mendewasakan kami.

Secara usia, harusnya memang ini jadi pembicaraan dewasa. Dimana kami bicara banyak dalam suasana yang kami buat sehangat mungkin, tetapi dalam keadaan perasaan dan kepala yang sama-sama dingin. Merasa saling menguatkan, tapi bukan dengan hamburan pujian, justru sesekali beberapa sindiran menggaduhkan perbincangan malam itu. Tapi toh memang selayaknya kita menyadari segala hikmah dari tiap kejadian bukan.

 

Saat kamu merasakan sakitnya ditinggalkan, saat itu juga kamu mengingat masa-masa kamu meninggalkan. Menyakitkan bukan main rasanya. Terlebih saat banyak harapan dan impian telah lama didengungkan, perpisahan nampaknya satu-satunya hal yang mampu membuang kita dari kehidupan. Tapi roda berputar dan waktu pun mengajar apa yang kau tanam itulah yang kau tuai. Tanpa bermaksud menyudutkan, dan memang sama sekali tidak ada tujuan demikian, hati ini bermaksud menyampaikan bahwa; terkadang dalam perpisahan kita terlalu sering menyayangkan kenangan.

 

Ada baiknya kamu perlu memberi waktu spesial pada hatimu untuk beristirahat lebih lama, untuk menyiapkan diri mendapat yang terbaik dari-Nya.

 

Kamu pasti dapat yang terbaik. | Kamu juga.

*meng-a-min-i bersama*

 

 

~ Thanks for tonight, nggak akan pernah bosen untuk kasi kamu semangat, sisihkan dulu hal nggak penting yang sudah lewat, fokuskan diri untuk tujuan waktu dekat, selamat istirahat, sleep tight. πŸ™‚

Delivered on 22.03.

GAJIAAANN… BAGI-BAGI, YAANNNN

#Originally posted at 20 April 2011

 

Beberapa hari kerja, akhirnya nyampe juga ke tanggal keramat yang ditunggu seluruh karyawan di perusahaan ini. Tanggal 20. Ahey, ngerasain juga yang namanya gajian. Ini gaji pertama untuk pertama kalinya kerja. Book, nyari duit itu susah ye. But thanks Allah for blessing me always. Begitu denger kata gajian rasa-rasanya pengen semua barang yang di depan mata itu aku jadiin hak milik. Tapi kan perencanaan keuangan juga perlu ya ciinn. Nabuungg wooyyy, etapi bagi-bagi dulu dong ya sama orang-orang terdekat. Ngerasain keringatku, ngerasain kebahagiaanku. πŸ™‚

 

Jadi mulai sekarang, tanggal yang selalu aku nantikan tiap bulannya adalah tanggal 20. Memang sedikit berbeda dengan perusahaan tempat teman-temanku bekerja. Yaa, kalo tanggal 20 aku udah kipas-kipas, tinggal pas temen-temen gajian akhir bulan akunya mulai sesek napas. Hhehe.

Yang Bergitar, Yang Berkata-kata Pintar

#Originally posted at 31 March 2011

Dengan penuh kesadaran dan kekaguman yang berharap tersampaikan,

Ijinkan aku membingkai beberapa kata untukmu Idola,

Eross Chandra.

 

Idola?

Siapa dia?

Yang mana rupanya?

Ya, hanya terlintas dua kata saat mendengar kata idola

Dua kata yang selalu buat aku tersenyum, bahkan saat mengejanya,

Eross Chandra

 

Aku tak β€˜kan pernah menyesal mengidolakanmu sedari dulu

Semenjak paduan merah dan putih mewarnai hari – hariku

Dan sungguh mengenalmu lewat karya yang hangat adalah anugerah terindah yang pernah kumiliki

Terima kasih atas karya gemilangmu untuk musik negeri

Syair dan satir dalam melodimu layaknya lagu pendukung dalam cerita hidupku

Selalu temani aku yang tak henti belajar tentang hidup

Terima kasih telah tunjukkan padaku bahwa karya yang bijaksana tak melulu menebar majas dimana – mana

Pilihan kata sederhana akan selalu menyentuh hati selagi diiringi semangat berbagi setulus hati

 

Seandainya saja kita dilahirkan dalam generasi yang sama

Mungkin sedari dulu aku gencar memekikkan teriakan jadikan aku pacarmu

Ya, itulah pria idola

Gadis manapun bersenang hati jika memilikinya

Namun suratan – Nya menggariskan cerita kita yang lebih indah

Percayalah,

Antara aku dan kau idola, akan selalu terpelihara pada nyamannya batas kekaguman yang tak β€˜kan berubah

Pun saat aku lanjut usia

Idola,

Tak β€˜kan bosan aku mendengar lenting gitar yang kau mainkan

Tak β€˜kan jemu aku mengamini lirik – lirikmu yang total dalam berpesan

Tetaplah berkarya dengan kata – kata pintar, wahai pangeran bergitar.

 

—- Find this poem at nulisbuku.com, Seri 2 Buku #UntukmuPenaInspirasi. Check this cover first. πŸ™‚

Here's the story begin, how we can imagine πŸ™‚