Surat Tertutup, Untuk Jodohku

#Originally posted at 9 March 2011

Surat ini kutulis pada satu malam yang tenang setelah basahnya sujudku, teruntuk kamu, pria yang akan mengimami sholatku di kemudian hari. Entah sudah berapa malam yang kuhabiskan dengan menebak-nebak aksara apa yang akan Tuhan hadiahkan sebagai pasanganku. Rasanya hal itu menjadi pengantar wajib tidurku di setiap malam, setidaknya semenjak batang usiaku memasuki 20’something. Hingga akhirnya akan ada waktu, yang tak tentu, yang sebelumnya aku tak tahu, permohonanku dijawab oleh Yang Maha Kuasa. Ya, akhirnya waktu-Nya mempertemukan kita dalam bahagia yang halal.

Teruntuk jodohku,

Bila kau mendapati surat ini dalam keadaan terbuka, artinya pernah ada pria sebelum hadirnya dirimu yang berusaha memenuhi pesan dalam surat ini, namun tak berhasil. Dan apabila kau mendapati surat ini dalam keadaan tertutup, maka bergembiralah. Sebab, nyatanya memang hanya dirimu yang mampu mendalami dan menjalani pesan-pesan dalam suratku ini.

Jodohku,

Saat menggebu-gebunya surat ini kubuat, ingin sekali segera kusampaikan langsung ke tempatmu berada, menyisipkannya pada jemari yang kelak akan aku gamit dalam halal. Namun, apa daya, belum juga turun izin dari-Nya. Itu tak jadi soal berarti, karena yang paling hakiki adalah bagaimana takdir mempertemukan kita dalam waktu-Nya yang indah. Saat kujalinkan kata demi kata dalam surat ini, aku dibendung rindu yang menggunung. Aku merindumu, jodohku. Kulihat jam dan kalender, menunggu waktumu tiba menemukanku. Namun kutahu pasti, kita saling menuju satu sama lain.

Jodohku,

Seringkali aku membayangkan bagaimana awal pertemuan kita terjadi, hingga kita mengukir janji suci suatu hari. Dengan restu kedua orang tua, aku berniat memulai langkah menjadi orang tua yang amanah bersamamu. Dimanapun kau berada kini, kelak langkah kita akan bertemu pada satu titik bahagia yang sebenarnya. Mungkin kita pernah berpapasan di jalan sebelumnya, mungkin mengantri bis dalam halte yang sama, atau terlibat pembicaraan lewat telepon salah sambung. Atau mungkin kita tak pernah dipertemukan hingga kita benar – benar siap untuk saling mengisi, menerima, tanpa membatasi dan saling memberi yang dipunya. Jodohku, sungguh jalan ke depan hanyalah bagian dari rahasia-Nya, hanya kita saja yang terlalu sibuk menerka – nerka. Maka tenang sajalah, aku yakin kita akan bertemu, segera atau masih perlu menunggu waktu saja.

Kau kah jodohku, pria berhati lembut yang mampu melunakkan keras hatinya wanita si sulung ini? Pria yang akhirnya memintaku dari dekapan Ayah dan Ibu. Pria yang selanjutnya berbagi tugas denganku menjadi kakak untuk dua adik manisku. Kamu, meski saat ini terlalu dini untuk menebak – nebak rupamu, aku tak perlu tawar – menawar apakah wajahmu serupa pangeran bertopeng idola Nohara Shinosuke, atau layaknya Mamoru kekasih Usagi Tsukino. Yang aku yakini, suatu hari nanti, wajahmu adalah rupa yang aku temui saat pertama kali membuka mata saat malam mengajakku menunaikan sholat malam, dan wajahmu yang terakhir kulihat sebelum terpejam lelap menebus lelah dan penat seharian.

Jodohku,

saat kita belum dipertemukan, adakah persiapan – persiapan yang kau lakukan? Aku? Tentu ada. Aku belajar meracik kopi hitam a la Ibuku, yang menjadikannya pelengkap cinta Ayah dan Ibu, supaya kau tak kecanduan pergi ke coffee shop dan terbiasa dengan kopi racikan tangan orang lain. Tenang jodohku, aku juga membekali diri dengan menguasai berbagai resep masakan turunan keluargaku. Kelak aku membiasakan keluarga kita dengan makanan rumah, makanan cinta, dan jauh – jauh dari jeratan junk food. Tak ketinggalan, aku rajin menyaksikan program demo masak di televisi, terutama program chef cantik nan seksi itu. Beberapa resep di majalah mingguan pun jadi koleksi favoritku di rak buku. Suatu hari, kita akan terbiasa membahasakan cinta di dapur, menyiapkan sajian penuh cinta untuk anak – anak tercinta.

Jodohku,

aku tak hanya membekali diri dengan senjata untuk menyuap mulut dan memuaskan perutmu. Dari asisten rumah tanggaku sewaktu kecil, kupelajari bagaimana cara mencuci pakaian dengan sebaik-baiknya, membersihkan bagian yang cenderung mudah ternoda, hingga membilasnya dengan pengharum, supaya tersampaikan juga cintaku disana. Aku juga mencontek cara jitu Ibuku menyelesaikan pekerjaan rumah tangga lainnya. Dari Beliau, kupelajari menjaga kondisi rumah bersih dengan kesungguhan hati akan membuat cinta tumbuh di setiap inchi rumah yang kita jadikan tempat berteduh, tempat memulai pendidikan dini untuk buah hati tersayang titipan Yang Maha Esa.

Jodohku,

terima kasih telah mempercayakan hatimu jatuh padaku. Terima kasih juga telah membiarkan hati kita tumbuh bersama dalam cinta yang sejalan dengan cinta-Nya. Percayalah, akan aku jaga hati ini sebisa yang aku mampu. Begitu juga yakinku atasmu melakukan hal yang sama. Terima kasih telah mengajariku makna rindu sebelum akhirnya kita bertemu. Rindu terdahulu jadi tak berarti setelah kau nyatakan menerima nikah dan kawinku. Terima kasih telah memberikan aku keluarga kedua yang baiknya tak kalah dengan keluarga kandungku. Menjalani jodoh denganmu adalah mendapat paket keluarga yang luar biasa. Terima kasih telah mempercayakan keturunan terbaik kita lewat rahimku, mempercayakan amanat untuk bersama – sama merawat, mendidik, dan menjadikan permata hati kita yang semata titipan Yang Maha Kuasa. Terima kasih telah mengizinkanku penuh untuk berkarya dan berkarir di bidang yang menjadi passion-ku. Di balik meja aku mengabdikan diri atas nama loyalitas kerja dan pengembangan pengetahuan, cita – cita mulia katamu. Terima kasih telah menjadi bahu paling nyaman untukku menangis, telinga paling sabar mendengarkan keluhanku dalam keseharian, dan menjadi seseorang yang selalu ada di garda paling depan dalam mendukung keputusan – keputusan yang aku buat.

Terakhir, bagian ini akan berisi segala permohonan maafku untukmu wahai jodohku. Dengan segala kerendahan hati, kiranya engkau menerima permohonan maaf dari bagian rusukmu ini. Maafkan aku jika nyatanya aku tak fasih melafalkan huruf R yang ada dalam namamu, namun demikian hal itu tak akan menggeser sedikitpun derajat kecintaanku padamu. Maafkan aku jika pada hari – hari kita bersama kau pernah menerima perlakuan tak menyenangkan menjelang datangnya tamu rutinku. Juga ketika aku merengek minta ini itu sewaktu mengandung buah cinta kita dengan mengatasnamakan ngidam. Maafkan aku untuk waktu yang kuhabiskan di kantor, juga waktu yang kucuri untuk mengerjakan tugas lemburku dirumah, hingga harus menitipkan mata dengan mempercayakan anak – anak kita dalam pengawasan nenek mereka. Jodohku, meski cerita cinta kita tak sesempurna layaknya di negeri cerita, kuyakin inilah jalan paling sempurna bagi kita untuk merasakan bahagia. Bersama kita menuju bahagia, dalam cara-Nya.

Jodohku,

setelah menulis surat cinta ini, aku lantas berpikir apa yang terlintas dalam pikiranmu setelah membacanya. Apakah kau bersyukur menjadi jodohku atau kau justru menyesal menjadikanku bagian penting dalam hidupmu? Sungguh jodohku, sebelum bertemu denganmu saja cintaku sudah terpupuk dengan baik, maka tak ada alasan untukku membuatnya mati setelah bertemu denganmu. Kutunggu kau mengisi sajadah di depanku yang sudah kusiapkan.

Dari aku,

yang sejak dulu, sedang, akan, dan selalu mencintaimu jodohku.

Advertisements

One response

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s