Paduan yang (semoga) Sepadan

Ada kalanya cara mencinta yang paling sempurna adalah diam-diam saja.

Kita sama-sama punya airmata. Hanya saja, aku yang terlalu rapi menyembunyikannya.

Aku harus terpejam beberapa waktu yang tak tentu; belajar tak mengingatmu.

Agaknya aku terlalu letih, terlampau sering menunggu yang tak pasti berarti.

Agaknya aku terlampau kelelahan, keseringan mengejar bayangan diri sendiri dari kejauhan.

Pernah aku terburu-buru menjatuhkan hati, setelahnya malah aku kesakitan sendiri.

Pernah aku terlalu dini melarikan diri, padahal ada hati yang semestinya turut kubawa pergi.

Perlu kau tahu, aku bukannya terlalu rela menunggu. Hanya saja aku tak ingin terburu-buru.

Perlu kau tahu, rindu yang hambur tak tahu malu ini sesungguhnya tak kutujukan padamu. Kesalahan angin yang membawanya padamu.

Berhentilah berlari, sedari tadi aku telah bersiap di tempat kita jumpa pertama kali.

Aku berkesempatan menghela panjang napas, titik kesadaran mengikhlaskan yang telah terlepas.

Jika kau tak mampu membuatku tertawa, setidaknya jangan buat aku menangis.

Jatuh di tempat berbeda, tapi sakitnya nggak jauh beda. Recoverynya pun tetep aja lama.

Hubungan yang energi positifnya kuat itu saling mendukung untuk berkembang, bukan saling adu kuat untuk mengekang.

Ada kalanya amat sangat tak perlu memelihara luka lama-lama, mudahnya pastikan saja kamu pura-pura lupa.

Hati pun bisa letih, bisa merasa perih, bahkan sesekali merintih. Dengarkanlah ia sebaik-baiknya.

Rasa yang sama memang kita punya, yang beda itu penyampaiannya. Dan aku, sengaja memilih tuk menyembunyikannya serapi yang kubisa.

Kata rindu untukmu masih terikat kuat di kerongkongan, belum siap diloloskan mulut ini dalam pernyataan.

 

 

@andayanih

Doa yang Tak Pernah Terlupa; dari yang Kau Alpa

Aku,

Satu nama yang tak sempat kau sebut utuh

Satu nama yang hanya kau ingat saat kau butuh

Selebihnya hanya alpa yang kau jadikan alasan saat menjauh

 

Perlu kau tahu,

Jangan pernah sekalipun berpikir bahwa aku selalu menunggumu dengan setiaku

Tak perlu terbebani dengan kesendirianku yang lama selepas kamu

Aku hanya memberikan jeda pada rasa untuk berkembang sepertia sedia kala,

sebelum mengenal luka

Hati ini hanya sedang aku berikan waktu bermain yang lebih,

sebelum nantinya akan bekerja sepanjang masa mencintai yang halal bagiku

Namun begitu,

Ingatkanlah lagi pada hatimu,

bahwa sejak dulu namamu tak pernah terlewat dengan sengaja dari setiap baris doa yang kuhimpun

Berbahagialah selalu, karena disitu pun letak bahagiaku

Aku memang hanya sebuah nama yang kerap kau lupa,

yang selalu turut tersenyum kala bahagiamu tercipta.

 

~ Handayani