Ketika Pintu Lemari Menganga

Inget nggak waktu kita masih pake seragam putih merah plus rambut dikuncir dua, ada pelajaran pengetahuan sosial yang menerangkan bahasan kebutuhan manusia? Ya. Coba ditebak ada berapa macam kebutuhan manusia sebagai makhluk hidup. Yang pasti, sebagai makhluk hidup, kebutuhan primer atau utama kita terdiri dari 3 pos penting, yaitu sandang, pangan, dan papan. Nah, di postingan kali ini aku mau membahas salah satu dari kebutuhan primer itu, yaitu sandang alias pakaian.

Seluk beluk soal pakaian memang bukan hal yang amat sangat aku pahami. Tapi setidaknya, sebagai kaum hawa, sebisa mungkin pakaian yang kita kenakan itu adalah pakaian yang sesuai dengan kepribadian kita yang sesungguhnya. Seperti pepatah asing yang menyatakan, you are what you wear.  Agaknya hal tersebut tidak berlebihan menurutku. Menurutku lho ya. Sebagai bentuk penghargaan dan apresiasi terhadap diri sendiri, berpakaian baik dan menarik itu tidak ada salahnya. Lagi-lagi, itu menurutku lho ya.

Bicara soal pakaian yang kita kenakan sehari-hari, berkaitan erat dengan profesi dan pekerjaan yang kita jalankan. Yang kerja di pemerintahan, sudah pasti siap dengan seragam. Di satu sisi hal ini menguntungkan, karena pekerja tidak perlu bingung dengan kreasi untuk gaya berpakaian sehari – hari. Namun di sisi lain, beberapa pegawai merasa kebebasannya berekspresi terhambat. Ya balik lagi sih ya ke orangnya maisng – masing. Tapi apapun itu kan memang perlu kita patuhi aturan tempat kita bernaung. Sementara buat yang kerja di swasta dan sektor lainnya ya harus siap dengan kreasi pakaian yang dikenakan sehari-harinya. Nah, untuk contoh yang satu ini adalah bentuk lain dari penjelamaanku, hhehe. Ya, sebagai seorang karyawati di salah satu perusahaan swasta di Jakarta, semestinya perihal pakaian ini tidak perlu jadi soal yang berarti buatku. Namun, apa boleh buat jika justru hal ini kerap melanda pagiku setiap harinya. Memang sih, bukan masalah besar yang perlu kuumbar – umbar. Hanya saja persoalan pakaian ini menarik aku bahas karena ternyata bukan hanya aku seorang yang mengalami kesulitan dalam memilih pakaian untuk bekerja. Setidaknya hal ini jugalah yang dialami oleh beberapa rekan wanitaku di kantor.

Yang jadi masalah bukan lantaran stok pakaian kami yang kurang, tetapi lebih kepada memilih pakaian yang asik dan nyaaman dikenakan pada hari itu hingga berakhirnya hari itu. Yang menjejal di kepalaku adalah pakai atasan apa, bawahannya yang mana, kerudugn warna apa, model kerudung hari ini seperti apa, bagaimana dengan riasan wajahnya, juga sepatu dan tas yang jadi pelengkapnya. Beberapa tumpukan blus di lemariku nampaknya mulai memanggil – manggil untuk segera terlekat pas di badanku. Namun lagi – lagi yang jadi soal adalah bagaimana menentukannya. Ya, lagi – lagi predikat galau siap menempel di jidatku. Setiap pagi membuka lemari, rasanya ingin kukenakan semua pakaian yang ada. Tapi kan nggak bisa juga. Menyesuaikan dan memprediksi kenyamanan pakaian yang akan kita gunakan seharian itu memakan waktu, Jendral! Aku menyebutnya drama tiga babak. Pasalnya, setiap memulai hari di pagi hari, setiap membuka lemari pasti saja dibutuhkan waktu ekstra untuk memilah dan memilih, serta memasang – masangkan paduan pakaian yang ready to wear. Jawabanku selalu satu: BINGUNG. Seperti yang kukatakan di awal, ini bukan masalah stok perangkat perempuanku yang terbatas, tetapi lebih kepada bagaimana memilih paduan yang sepadan untuk pakaian yang kukenakan ketika pintu lemariku terbuka. Hahahaha.. Do I need a fashion advisor? Huh.

Ehmm, semoga akan tiba waktunya aku tak bingung – bungung lagi dalam memasang – masangkan pakaian yang akan kukenakan ke kantor. Mungkinkah hal itu terjawab ketika aku menjadi pegawai ‘berseragam’?