Minus Judul (2)

Kita pernah bisa saling sayang, kemudian terbiasa saling mengenang.

Kita pernah bersama saling cinta, kemudian sama-sama berusaha saling melupa.

Kita pernah saling mengisi sekuat tenaga, kemudian saling membatasi sepanjang jarak yang kita jaga.
And we were together. Yes, we were.

— @andayanih

Advertisements

Untuk Kamu, Yang Tak Menentu

Aku dan kamu dicipta jauh dari sempurna. Karenanya, hidup kita didesain untuk saling melengkapi sesama.

Aku dan kamu seringkali tak sejalan, tak seiringan. Kemana langkah kaki ini ditetapkan, disanalah kekalnya kehendak Tuhan.

Aku dan kamu nggak tahu-tahu langsung bersatu. Nggak selalu juga punya suara yang bulat satu.

Aku dan kamu tak jarang sepakat pada bulat kata setuju. Juga tak luput dari fase ambigu atas alternatif jawaban tak tentu.

Aku dan kamu ada kalanya perlu saling mengerti, ada juga saat-saatnya memenangkan hati sendiri-sendiri.

 
~untuk kamu, yang tak menentu~

— @andayanih

Minus Judul (1)

Hati dan kepala seringkali bertemu dalam benturan tak terduga. Antara keduanya akan ada yang harus dimenangkan juga akhirnya.

 

Semua orang berhak berharap. Dan apapun kenyataannya, semua orang hendaknya selalu siap. Yang terlewati, tak jarang jadi bahan tuk disesali. Tapi sekali lagi, akan ada hikmah di kemudian hari tuk disyukuri.

 

Jika kita memang tak digariskan saling memiliki, setidaknya kita telah diajarkan saling mengerti. Termasuk dalam sulitnya keadaan ini.

 

23 Agustus 2011 — @andayanih