pesan dan perasaan

Image

Kata orang, banyak jalan menuju Roma. Dan menurutku, banyak juga jalan untuk berkomunikasi antar sesama. Menyoal pertelekomunikasian, sudah bukan zamannya lagi kita dibuat bingung dengan perangkat yang digunakan. Sudah banyak macam, jenis, dan bentuk media komunikasi yang dapat dipilih oleh pengguna dengan masing-masing preferensinya. Pesan singkat di ponsel, serta surat elektronik  yang lazim digunakan dalam kegiatan sehari-hari sudah menjadi bagian dari keseharian yang tak bisa dipisahkan. Hal ini berlaku juga dalam urusan pekerjaan, keluarga, pergaulan, dan mungkin per-cin-ta-an.

Dari pesan-pesan yang dikirimkan oleh seseorang, terbagi menjadi dua, pesan yang penting dan tidak penting. Itu menurutku saja loh ya. Pesan penting yaitu lingkupnya berhubungan dengan pekerjaan, atau urusan lainnya. Sementara pesan tidak penting, misalnya sekedar mengirimkan autotext sepanjang-panjang alaihum gambreng atau pertanyaan-pertanyaan standar yang sesungguhnya amat sangat lebih baik jika tidak ditanyakan. Perlu ditimbang juga, batasan penting dan tidak penting itu juga tergantung pada siapa yang mengirimkan pesan tersebut. Jika pengirim pesan itu orang yang punya posisi strategis di hati kamu, pasti semua pesan yang dikirimkan, meski hanya petikan autotext saja akan terasa amat berarti. Dengan senang hati dan perasaan berbunga di sana-sini, tak ada keraguan sama sekali untuk membalas pesannya. Ketik, hapus, ketik lagi, dan hapus lagi, ketik. Kirim.

Niat untuk membalas pesan baik penting maupun tidak penting dari orang yang dikagumi memang sudah bulat 100 persen tanpa goyah. Yang jadi soal adalah apa balasan dari kita, dan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk merangkai pesan tersebut agar semakin berkesan. Ets, jangan dulu keburu senang berlebih. Bagaimana jika ternyata si pengirim pesan adalah orang yang sebenarnya tidak boleh kamu harapkan? Mungkin dia kekasih, tunangan, atau bahkan pasangan orang lain? Dhuar! Sedih. Pedih. Emosi mendidih. Jika itu yang terjadi, balas saja pesannya, bukan perasaannya. Sebab sebagaimana kuatnya kamu mengharapkan dan gembira yang ingin kamu luapkan, dia tidak bisa didapatkan. Tidak bisa bersamamu berdampingan. Dia, yang hatinya sudah ditambatkan.