parade rasa

Image

langit Jakarta terasa begitu teduh

mungkin sebentar lagi ia mengaduh

melancarkan gemuruh dengan riuh

 di sudut lantai lima sebuah gedung yang hampir lapuk

sepasang mata diam tertunduk

perasaannya sedang diaduk-aduk

di lengkung bibirnya ada kekecewaan yang tegas terbentuk

 ia diam,

berpikir dalam diam

ada yang ingin diluapkannya cepat-cepat

marah yang hebat

kekecewaan menyemburat

emosi yang sangat

parade rasa yang harus ditutup rapat

—- atas nama menjaga hubungan yang hangat

 

Kuningan, 16:18

Advertisements

merelakan mereka

Image

walk alone

Image source here

Dalam fase kehidupan saya, tahun 2011 dan 2012 adalah tahun yang dihiasi dengan deretan pernikahan rekan dan kawan. Sepertinya tongkat estafet predikat raja dan ratu sehari ini semakin jelas dalam pemandangan hidup saya. Dan semua, terlihat indah dengan bahagia yang masing-masing ciptakan. Meski tongkat estafet itu belum sampai ke tangan saya saat ini, saya tetap optimis akan menggenggamnya suatu hari nanti. Insya Allah. Mohon doanya yaa, teman-temin.

Bayangan tentang pelaminan rasanya wajar terlintas pada mereka yang telah memiliki pasangan kekasih atau yang berada di bawah legitimasi pacaran. Menurut saya, itu tidak salah dan tidak terlalu berlebihan. Tapi yang namanya hidup adalah misteri, tak ada yang dapat menjamin apa yang terjadi esok hari. Begitu pun dengan urusan hati. Coba bayangkan, ada berapa banyak pasangan yang telah mendambakan status pacarannya dilegalkan dalam pernikahan? Banyak bukan. Saat ini pun, saya yakin ada sepasang anak manusia yang membayangkan bagaimana bahagianya pernikahan mereka dilangsungkan. Bagaimana kehidupan rumah tangga mereka berjalan ke depan. Pasti ada yang sudah indah-indahnya membayangkan.

Seperti yang saya sebut barusan. Tak ada yang tahu skenario-Nya esok hari, tak terkecuali perihal hati. Bisa jadi beberapa menit lalu lagi mesra-mesranya sama pacar, di menit selanjutnya justru diproklamirkan kata bubar. Tidak mustahil kan. Satu dan lain hal bisa menyebabkan demikian. Sebab itu, telinga ini seringkali terbiasa mendengar sebutan ‘itu mantannya si ini’. Ya apalagi namanya kalau bukan perpisahan, hubungan yang putus di tengah jalan. Dan masing-masing pihak dalam hubungan yang berakhir itu tetap harus menjalani hidupnya. Kembali melangkah sendirian. Berusaha melupakan – setidaknya tidak selalu mengingat apa yang telah terlewatkan. Hingga pada saatnya dipertemukan dengan jodoh pilihan Tuhan.

Sebuah petikan dalam bahasa Inggris berikut mungkin mewakili kondisi yang saya sebutkan sebelumnya, “Love is like a cycle. When you love, you get hurt. When you get hurt, you hate. When you hate, you try to forget. When you try to forget, you start missing. And when you start missing, you’ll eventually fall in love again.”

Dalam estafet pernikahan, didahului mantan bisa jadi hal yang menakutkan. Setidaknya pendapat ini saya ambil dari hasil bertanya-tanya dengan beberapa teman yang punya mantan pacar dari masa lalunya. Dan hal yang ditakutkan bukan hal yang tidak mungkin terjadi kan? Bisa saja hal ini adalah pengalaman pribadimu, atau teman-temanmu. Sejujurnya iya. Hal inilah yang dialami oleh beberapa temanku. Mari kita perluas subjeknya, yaitu bukan hanya mantan pacar, tapi berlaku juga dengan mantan gebetan. Coba berapa banyak dari pembaca postingan ini yang mengalami hal serupa? Hhehe.

Mendapati kabar pernikahan seseorang memang membahagiakan. Tapi lain soal jika nama pasangan yang bersanding adalah mantan orang terdekat kita. Bukannya ingin merusak kebahagiaan orang lain, tapi undangan tersebut bisa saja justru menyeret penerimanya kembali mengingat masa-masa bersamanya dengan si pengirim undangan. Anyway, sekilas mengingat yang lalu itu tak mampu membuat keadaan saat ini berubah menjadi seperti yang kau mau. Keputusan telah dibuat. Hajatan besar siap dihelat. Dan saat ini, bahu saya selalu ada untukmu, sahabat.

Kembali soal esok yang tak bisa ditebak. Hidup, mati, rezeki, dan jodoh itu di tangan Yang Maha Kuasa, kata orang bijak. Saya percaya, jika bahagia tak menghampirimu saat ini, maka ia akan datang kelak. Jangan persoalkan cepat atau lambatnya ia menjejak. Itu hanya membuat otakmu menjadi acak-acak.

Teruntuk teman-temanku yang diduluin mantannya nikah, relakan mereka. Ini bukan lomba lari. Jangan sibuk cepat-cepat mengayunkan kaki. Jalani harimu hingga bertemu hati yang pasti. Setiap kebahagiaan punya waktunya sendiri-sendiri. Tak baik dibiarkan prematur, tidak juga diundur-undur. As once said, love is like cycle, so start moving now! And you’ll be surprising how life cycles and makes you fall–in love, again.