Strip Satu

Pukul sepuluh di Sabtu pagi seperti ini seharusnya aku masih berada di bawah sandera selimut kesayanganku yang bergambar Hello Kitty. Tetapi Sabtu ini sungguh berbeda sekali. Sejak pagi, aku sudah rapi, wangi, dengan wajah berseri. Tak kurang senyum sama sekali. Happy. Ditambah lagi dengan seseorang di sampingku kini, Fahry.

“Dipake dulu toga-nya. Kita mau ambil shot di depan MBRC,” instruksi Fahry kepadaku sambil menunjuk dinding bertuliskan MBRC, Miriam Budiarjo Research Center, nama perpustakaan di fakultas dengan makara oranye ini.

FISIP dan keramaian serta keanekaragamannya. Selalu itu yang kentara setiap melangkahkan kaki di sini. Termasuk hari ini. Sabtu pagi. Hilir mudik mahasiswa dan mahasiswi tetap jadi pemandangan inti. Kurapikan setelan kebaya merah mudaku dengan songket marunnya. Fahry kemudian membantuku mengepaskan jubah toga lengkap di badanku. Siapa sih yang nggak bangga pake toga, kan? Dan benar saja, banyak mata seperti menghujani aku dan Fahry dengan sejuta pertanyaan. Mata mereka seakan telah memberondong kami dengan peluru tanya paling berbahaya. Mungkin mereka bertanya, siapa dan sedang apa dua makhluk bertoga yang wara-wiri di tengah keramaian perkuliahan semacam ini.

Jadilah aku dan Fahry, pasangan dengan setelan lengkap toga strip satu yang mengambil satu buah sisi bangunan gudangnya buku-buku di fakultas tempat kami meraih gelar strata satu. Seorang fotografer dan asistennya yang kami bawa turut serta, mulai melaksanakan tugasnya. Apalagi kalau bukan memotret kami. Dalam berbagai pose, dalam berbagai ekspresi. Cuek, harusnya itu yang kami tanam sebelum memutuskan mengikhlaskan diri jadi tontonan abg masa kini.

“Malu banget nggak sih, Yaanggg…” kataku memanja pada laki-laki berkacamata minus yang sedang menyedot air mineral dinginnya itu.

“Santai aja, yang lihat kita foto di sini pasti ikutan seneng kok,” balas Fahry enteng tapi lugas. Ini salah satu sifatnya yang aku suka. Hingga hubunganku dengannya menginjak hitungan tahun lamanya. Sifatnya dan pembawaannya yang menenangkan buatku. Kau tahu Fahry, bersamamu itu menyenangkan selalu.

Aku sangat menyukai sesi pemotretan ini. Merasa menjadi wanita paling bahagia di samping pria baik hati pilihan hati yang sudah tahan uji, hhihii. Di tahun ke enam sejak kelulusan kami dari fakultas ini, akhirnya kami kembali mengakrabkan diri. Mengumpulkan potongan-potongan gambar yang akan kami kenang di kemudian hari. Pendukung visual dalam dongeng kami untuk anak cucu nanti. Merekam ulang tawa yang dulu dicipta bersama. Kali ini dengan perasaan yang lebih bahagia. Terima kasih FISIP UI yang sudah menjadi tempat kami dipertemukan dan jadi bagian dalam potret pra-pernikahan kami.

Love,

Deasy and Fahry; soon-bride-to-be. 

Advertisements

subuh ketujuh di bulan sepuluh

Tiga puluh empat menit lagi menuju pukul lima. Aku terbangun di atas pembaringan, masih berpiyama. Mataku berputar-putar ke sekeliling dinding dan langit-langit, mencari entah apa. Dan lagi-lagi, aku hanya mendaratkan pandangan pada pintu yang sepertiganya terbuka. Aku yang memang bukan tipikal morning person, merasa sulit sekali membuka mata di jam-jam pagi buta. Tapi, kali ini kesulitanku berlipat-lipat ganda. Entah tenaga apa yang menahanku untuk tetap rebahan saja.

Kepalaku terasa berat ditambah perputarannya yang hebat. Namun tetap masih bisa aku mendengar lantunan adzan subuh dari surau terdekat. Rasanya butuh sukarelawan untuk membopong tubuhku ke pancuran air wudhu sebelum shalat. Ini benar-benar subuh yang berat. Teramat berat.

Dingin air wudhu begitu menusuk tulang, bahkan sampai sumsum tulang belakang. Segeralah aku dengan langkah limbung memasangkan sajadah dan mengenakan mukena berenda putih terang. Takbirku yang lirih, hingga salam yang dalam dan tenang. Untaian doa yang biasa aku lafalkan, kali ini membuat pelupuk mataku menggenang. Air mataku tumpah, letak kesedihan berenang. Kupastikan lagi, bukan pandanganku yang kunang-kunang. Bahwa benar, sajadah di depanku kosong. Tak ada punggung tangan yang siap aku salami sekarang. Jelas-jelas ada yang kurang. Ada yang hilang. Seseorang. Kakang.

 

 

Love,

 Istrimu, di tepat satu tahun kepergianmu dalam tenang.

dua cincin di kepala

girl in a wedding

Gambar dari sini.

Katamu, pagi adalah waktu yang tepat untuk menjemput mimpi. Dan aku sungguh jatuh cinta dengan pagi ini. Yang menyeruak hebat bukan harum kopi dan selai-selai roti. Ini wangi melati. Ruang serbaguna ini didominasi harum melati. Seorang mempelai pria berpeci sudah hadir dengan gagah sedari tadi. Prosesi demi prosesi yang dinanti pun mulai dipenuhi. Satu per satu, pasti.

 

“Sah.”

“Alhamdulillah.”

 

Wajah-wajah yang semula tegang berubah kembali tenang, senang. Haru dan khidmat mengubah suasana yang semula mendebarkan. Kini tiba waktuku untuk tampil ke muka hadirin yang datang memenuhi undangan. Senyum. Harusnya senyum yang aku pancarkan. Bukan semacam muka penuh kekhawatiran. Muka dengan berbagai hal dalam pikiran. Kubenahi cara berdiriku yang kaku di tengah puluhan mata memandang. Tak biasa bagiku menerima sorotan tajam dari orang-orang. Rasanya aku butuh busur untuk mengukur seberapa tepat lengkung bibirku agar memunculkan senyuman yang pas di hati bagi yang melihatnya.

 

Kedua cincin itu benar-benar di hadapanku. Kemudian kepalaku terasa penuh dengan potongan-potongan gambar yang bermunculan satu per satu. Pernikahan, rumah tangga, keluarga inti bahagia dengan putra putri juga ada. Ah, entahlah apa arti semua itu. Yang aku tahu, aku ingin.

 

~ gadis pembawa baki cincin pernikahan

sharing session; membuat donat kentang dan roti goreng

Sharing is caring. Saya pernah membaca kutipan tersebut sebelumnya. Entah di mana pastinya, lupa. Mungkin, salah satu yang menerapkan value tersebut dalam keseharian yakni perusahaan tempat saya bekerja. Di kantor saya, terdapat agenda satu atau dua kali sebulan yang dinamakan Sharing Session. Kegiatan ini semacam training atau seminar selama dua jam yang topiknya berbeda-beda. Tidak semata berkaitan dengan pekerjaan, tapi bisa juga mengenai hobi, kesehatan, financial planning, dan lainnya. Pembicara yang dihadirkan juga beragam. Bisa dari kalangan internal, atau pakar dan ahli yang didatangkan dari pihak eksternal. Beberapa topik yang pernah diberikan dalam kegiatan sharing session ini antara lain; cervical cancer awareness, pengenalan investasi pasar modal, brain rules, supply chain management, utilisasi transport, SAP – BW, Anavant Nard, Presentation Skill, Etika Bekerja yang Baik, Paper for LifeSales and Operation Planning, dan lainnya.

Ada yang spesial dalam agenda sharing kali ini. Dikhususkan bagi istri karyawan, dengan topik Kursus Singkat Wirausaha dan Demo Masak Roti Goreng dan Donat Kentang. Dengan kuota yang masih tersisa, saya dan beberapa teman perempuan lain akhirnya dapat terdaftar dalam kegiatan ini. Untuk saya pribadi, kursus singkat memasak ini merupakan kali pertama. Rasanya excited sekali. Membayangkan tangan berlumur tepung, margarin, telur dan bahan campuran lainnya rasanya seru, bukan? Bekerja sama dengan UKM KU yang berada di bilangan Lebak Bulus, kegiatan ini berlangsung lancar.

Selanjutnya, silakan dilihat-lihat potongan gambar selama kegiatan yaa 🙂

bahan-bahan

proses membuat adonan

adonan telah dicetak, siap digoreng

roti goreng dan donat kentang siap dihidangkan

semua peserta; karyawati dan istri karyawan

Pengalaman pertama ikutan cooking class seperti ini benar-benar seruuu. Mau coba lagi deh lain waktu. Dengan menu lain yang cara pembuatannya belum aku tahu. Hmm, selanjutnya mau praktek dulu deh sama resep yang ini. Tunggu ceritanya di postingan selanjutnya yaaa. Insya Allah.

See you :*