kesempatan dan pembuktian

Gambar dari sini

*

Sudah hampir sebulan ini, OB (office boy) di tempat saya bekerja mengalami rotasi. Sebab satu dan lain hal, untuk OB yang bertugas di divisi saya adalah OB baru. Bukan pindahan dari divisi atau lantai lainnya.  Untuk mempermudah deskripsi dalam postingan ini, mari sebut saja dengan panggilan Akang. Sebagai tenaga rekrutmen baru, Akang ini tergolong dalam angkatan kerja muda. Kondisi before after pun terlihat jelas di sini. Tak sedikit dari rekan kerja saya yang meragukan kinerjanya dalam menjalankan tugas dan perannya sebagai OB. Tidak terkecuali saya. Sempat terpikir oleh saya bahwa Akang ini akan lambat dan melakukan kesalahan-kesalahan dalam bekerja. Picik sekali ya saya ini.

Namun, apapun asumsi saya terhadap Akang ini, toh tetap saja saya memanfaatkan jasanya untuk membelikan makan siang keluar, mencuci piring sehabis makan, menyiapkan gelas saat pagi-pagi pekerja mulai berdatangan. Dan lainnya. Saya memandang Akang sebagai sosok yang memang sesuai labelnya melakukan jobdesc yang seharusnya dilakukan. Pikir saya, ya kita sama-sama kerja kan ya, masing-masing punya kecukupan dan kecakapan yang dimiliki untuk sebuah posisi. Tinggal bagaimana pribadi-pribadinya saja yang menunjukkan kualitas performa yang dipunya.

Di awal kedatangannya, Akang kurang beruntung. Sikap kurang terbuka muncul dari beberapa pekerja. Bahkan saya pernah mendengar salah seorang teman saya yang berujar “gua gak nitip makan siang ah, mending makan keluar aja daripada pesenan salah-salah”. Hm, sedih sih kalo Akang langsung yang mendengar pernyataan itu. Dan ‘bonusnya’ lagi, Akang ini pernah ada case khusus dengan saya. Pagi-pagi, saya mendapati gelas saya yang bening tidak tercuci dengan bersih. Terdapat beberapa noda bekas apalah itu saya kurang paham.Well, saya manusia biasa. Punya marah yang bisa terpantik kapan saja, termasuk saat Akang melakukan kesalahan yang jelas-jelas di depan mata. Buat saya, itu fatal. Singkatnya, saya menegur Akang di pantry dengan nada suara serendah mungkin. Tapi satu kelemahan saya, air muka marah saya tidak dapat disamarkan dengan sempurna. Saya merasa perlu menegur Akang. Bagaimana jika yang mengalami tragedi gelas-tak-bersih itu adalah bos besar? Si bos galak? Saya menekankan agar Akang lebih berhati-hati dalam menyelesaikan pekerjaannya. Dan jangan sampai ada tragedi gelas-tak-bersih yang berulang. Teguran pertama saya itu berakhir dengan permintaan maaf dari Akang, dan dibuktikan dengan tidak terjadinya peristiwa serupa. Setidaknya sampai tulisan ini saya publish menjadi santapan pembaca. Semoga saja kehati-hatiannya ini berlangsung seterusnya, bukan musiman saja.

*

Suatu kali, sepulang bubar jam kantor, saya dan seorang teman lama bertekuk lutut pada sepiring mie godog yang kami hadapi masing-masing. Cerita ini dan itu, tentang si ini dan si itu. Kami menyebutkan menggembul galau bersama. Entah bagaimana alurnya, tibalah pembicaraan kami pada OB masing-masing di kantor. Mengalir dari bibir saya tentunya cerita tentang rotasi OB yang terjadi, juga Raja Pantry baru, Akang. Sementara itu, teman saya yang namanya tidak bisa disebut di sini demi kebaikan dunia persilatan Kuningan – Bekasi, bercerita tentang beberapa OB yang kemudian justru direkrut ke dalam perusahaan.

OB 1. Pria, kini menduduki posisi admin keuangan. Menurut penuturan teman saya, Bapak OB 1 ini sudah mengabdi ke perusahaan sejak teman saya kecil — sebelum teman saya bekerja di perusahaan tersebut, ayahnya sudah dari dahulu memegang posisi di perusahaan yang sama. Pihak perusahaan akhirnya memandatkan jabatan sebagai admin keuangan untuk OB tersebut dengan pertimbangan OB itu ahli dalam hitung-menghitung.

OB 2. Perempuan, kini menduduki posisi sebagai admin general. Masih di perusahaan tempat teman saya bekerja, OB ini kini bekerja sebagai general admin yang bertugas mengurus fillingdan dokumentasi lainnya. Menurut pihak perusahaan, ketelatenan dan keapikan kerja OB tersebutlah yang menjadi nilai tambah tersendiri hingga diamanatkan sebagai admin.

*

Dua setting berbeda yang ada sebelumnya, kurang lebih berkenaan dengan kesempatan dan pembuktian. Cerita pertama soal Akang yang kurang mendapat kesempatan dari beberapa pihak, sementara dua orang mantan OB di kantor teman saya yang justru posisinya naik menjadi tenaga admin di office. Kedua case tersebut memang bisa dibilang berbeda. Dengannature bussiness, lingkungan, dan managerial perusahaan yang berbeda, kondisi masing-masing pun tidak dapat dipukul sama rata.

Poin yang ingin saya sampaikan di postingan ini adalah bagaimana kita bertemu dengan kesempatan-kesempatan dan pembuktian. Selain itu, percaya pada orang lain pun dibutuhkan. Bukan asal percaya, tapi karakteristik dan kecakapan seseorang dalam memegang posisi pekerjaannya pun selayaknya diperhitungkan. Bagaimana manusia bisa karena biasa. Dalam hal ini pun berlaku juga. Bagaimana menjauhkan perasaan-perasaanunder-estimate terhadap orang lain. Bagaimana menghargai orang lain sesuai porsinya.

Jika tidak diberi kesempatan, bagaimana bisa tiba pada fase pembuktian?

Advertisements

4 responses

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s