subuh ketujuh di bulan sepuluh

Tiga puluh empat menit lagi menuju pukul lima. Aku terbangun di atas pembaringan, masih berpiyama. Mataku berputar-putar ke sekeliling dinding dan langit-langit, mencari entah apa. Dan lagi-lagi, aku hanya mendaratkan pandangan pada pintu yang sepertiganya terbuka. Aku yang memang bukan tipikal morning person, merasa sulit sekali membuka mata di jam-jam pagi buta. Tapi, kali ini kesulitanku berlipat-lipat ganda. Entah tenaga apa yang menahanku untuk tetap rebahan saja.

Kepalaku terasa berat ditambah perputarannya yang hebat. Namun tetap masih bisa aku mendengar lantunan adzan subuh dari surau terdekat. Rasanya butuh sukarelawan untuk membopong tubuhku ke pancuran air wudhu sebelum shalat. Ini benar-benar subuh yang berat. Teramat berat.

Dingin air wudhu begitu menusuk tulang, bahkan sampai sumsum tulang belakang. Segeralah aku dengan langkah limbung memasangkan sajadah dan mengenakan mukena berenda putih terang. Takbirku yang lirih, hingga salam yang dalam dan tenang. Untaian doa yang biasa aku lafalkan, kali ini membuat pelupuk mataku menggenang. Air mataku tumpah, letak kesedihan berenang. Kupastikan lagi, bukan pandanganku yang kunang-kunang. Bahwa benar, sajadah di depanku kosong. Tak ada punggung tangan yang siap aku salami sekarang. Jelas-jelas ada yang kurang. Ada yang hilang. Seseorang. Kakang.

 

 

Love,

 Istrimu, di tepat satu tahun kepergianmu dalam tenang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s