1234

1.
Aku menghitung
Tak sampai sejuta lalu bingung
Berjalan jadi limbung
Hendak berhenti tapi tanggung

2.
Aku menanti
Menandai bergantinya hari
Saat malam, aku menunggu pagi
Saat pagi, kuingin segera malam lagi

3.
Memang terdengar lucu
Harap – harap cemas untuk satu tanggal yang sudah tentu
Tapi menunggu kan bukan hanya soal waktu,
Berkaitan juga dengan perasaan aku dan kamu

4.
Sembilan hari lagi
Perjumpaan jadi agenda utama kita
Nanti, di suatu Sabtu pagi
Kita merasakan oksigen di kota yang sama

Satu, dua, tiga, empat
Coretan di sore yang hangat,
dari aku yang menantimu dengan bersemangat.

Advertisements

Transjakarta dan Traumanya

ladies area

ladies area

Sekitar bulan lalu, salah seorang teman perempuan saya mengalami kejadian kurang berkenan saat memanfaatkan moda transportasi yang paling hits di Jakarta, Transjakarta. Kejadiannya pada jam pulang kerja, sekitar setengah enam. Sudah bisa tergambar bukan bagaimana suasana sebuah shelter pada jam-jam ramai seperti itu. Nah, teman saya ini termasuk tertib dalam menggunakan jasa transportasi umum ini. Dia mengantri di area wanita, sesuai peruntukkannya. Saat bus TJ-nya tiba, teman saya ini masuk bersamaan dengan calon penumpang lainnya yang sudah memenuhi shelter sejak tadi. Dia pun kemudian menghambur dengan penumpang lainnya di area khusus wanita. Namun, ternyata ada pria berkepala akuarium kotor yang memanfaatkan kesempatan ditengah kesempitan penumpang di dalam TJ. Dalam suasana sesak itu, dia berada di antrian wanita dan sukses masuk ke area wanita di TJ. Pria-pria salah antrian ini tidak bisa dibiarkan. Ini awal timbulnya kejahatan. Otak dan tangan jahilnya merupakan ancaman bagi perempuan, tidak terkecuali bagi yang berpakaian muslimah sekalipun. Salah satunya (maaf) pelecehan yang dialami teman saya tempo hari. Si pelaku, dengan tangan jahilnya meremas bagian belakang teman saya. Teman saya langsung berteriak dan lapor ke PAM TJ yang bertugas. Nihil. Tak ada titik terang. Kejahatan seperti itu memang sulit dibuktikan. Apalagi di tengah suasana berjejal-jejalan dan tak didukung bukti dan saksi yang mumpuni. Sedih, malu, kecewa, mau marah. Itu yang dirasakan teman saya. Termasuk saya yang diceritakan. Rasanya ingin menampar nya bolak – balik dalam satu hitungan napas. Juga ingin mencabuti bulu kakinya tanpa sisa satu helai pun. Memang, kejadian ini bisa terjadi di mana pun, kapan pun, dan menimpa siapa pun. Waspada sudah pasti. Tetapi kesempatan yang memicu terjadinya kejahatan dan semacamnya juga perlu diminimalisir bukan? Semoga otak pria-pria Indonesia, tua muda, bapak-bapak, mas-mas, serta anak muda lainnya bisa lebih sehat.

Berikutnya cerita saya sendiri. Pengalaman tidak menyenangkan dari sebuah perjalanan Transjakarta. Jumat lalu, sekitar pukul sebelas saya dan teman kantor berniat melewati jam istirahat di sebuah mall di Jakarta. Sebab letaknya yang tidak begitu jauh dari kantor, kami memutuskan untuk menggunakan bus TJ. Kalau tidak salah, hanya sekitar 4 atau 5 shelter. Nah, di perjalanan di jembatan penyebrangan TJ itu, saat hampir mendekati loket sehingga sudah sampai pada bagian jembatan yang mengecil yang hanya bisa dilewati dua orang berlawanan. Saat itu, saya sedang berjalan setengah cepat, berpapasan dengan seorang pria asing ras negrito dengan kulit gelap dan lengan buntungnya. Saya sama sekali tidak terpikir akan terjadi suatu hal yang tidak menyenangkan saat itu. Mengingat situasi saat itu yang tengah hari bolong, dan saya pun tidak sendirian. Sejujurnya, saya bukan pengguna jasa TJ setiap harinya. Bahkan tergolong sangat jarang, sehingga saya merasa TJ waktu itu ya aman-aman saja. Ternyata perkiraan saya meleset. Saat berpapasan dengan pria asing itu, tanpa diduga ketika kami berada pada satu titik yang sama, dia mencolek lengan saya. Kejadiannya berlangsung amat cepat, sebab saya juga berjalan cukup cepat saat itu. Mau maraahhh rasanya, tapi pelaku sudah lekas berlalu. Hanya pasa mbak-mbak kantor yang bersama saya waktu itulah saya mengadu. Saya jadi berpikir, seandainya kejadiannya lebih buruk dari yang tadi, apa yang harus saya lakukan? Bagaimana jika yang dicolek pria asing itu bukan lengan saya, tapi bagian lain yang lebih privat? Ya Tuhan, sungguh Jakarta tidak se(ny)aman yang saya bayangkan. Pesan saya, jika teman – teman perempuan yang sedang jalan di jembatan TJ bagian yang menyempit yang hanya bisa papasan, berhentilah dulu. Biarkan lawan jalan di depan kamu jalan duluan, apalagi kalo pria yang mencurigakan. Hindari jangan sampai berpapasan. Buat pria yang baca postingan ini, ingatkan perempuan – perempuan tersayangmu ya. Sebab Transjakarta dan transportasi umum lain punya traumanya sendiri bagi penggunanya, maka harus selalu berhati – hati dan waspada.

Semoga bermanfaat.

🙂