bohong

Surat Cinta Hari Ke-Delapan

Teruntuk seseorang yang saya bohongi semalam,

Bagaimana tidurmu semalam? Jika diizinkan menebak, saya pastikan kamu tidur cukup larut semalam tadi. Buka begitu? Saya ingat, hampir tengah malam, saat saya membalas pesanmu melalui messanger di smartphone kita, nyatanya kamu langsung membaca, kemudian segera membalasnya.

Ingatkah kamu apa yang saya sampaikan dalam pesan tersebut? Saya bilang, saya ketiduran, dan tentu akan segera memulai agenda tidur lanjutan. Maaf sekali, saya berbohong dalam pesan itu. Maaf sekali, saya langsung menepis dengan “aku nggak apa-apa” saat kamu menembak dengan tepat “are you ok, darl?”. Tanpa bermaksud untuk membuatmu khawatir, saya memilih berbohong seperti itu. Di malam selarut itu, sesungguhnya saya belum sedetikpun memejamkan mata. Saya masih terjaga. Bahkan masih berusaha menajamkan mata.

Sekarang, apa kamu mau tahu apa yang saya lakukan semalam? Apa yang saya pikirkan hingga selarut itu masih bertahan tanpa membesar-besarkan dan menyebar-nyebarkan “aku ngantuk”? Terus terang, sampai surat ini saya putuskan untuk di-publish-pun, saya tidak tahu apa yang saya rasakan semalam. Saya yakin, ketidaktahuan yang saya kemukakan ini akan menjadi pupuk kecurigaan buatmu. Tapi sungguh, semalam saya memang didera kekhawatiran yang hebat. Pikiran-pikiran aneh berkeliaran di kepala saya dengan begitu cepat. Serasa aliran darah saya dipenuhi benda-benda padat yang membuat kelancaran berpikir saya terhambat.

Dalam surat tanpa tendensi apa-apa ini, saya hanya ingin mengucapkan permohonan maaf atas tindakan saya yang membohongi kamu semalam. Bahkan saat saya menuliskan serangkaian pesan “hahahahaha” semalam, sesungguhnya wajah datar saya mendominasi isi pesan tersebut. Wajah yang tak tahu apa yang dipikirkan, apa yang diinginkan, apa yang harus dilakukan. Tapi wajah itu sudah kembali tersenyum pagi ini, sudah kembali baik-baik saja kini. Wajah lesu dan sendu itu sudah kembali memancarkan rona pipinya yang bersemu, yang menyadari bahwa hari ini tanggal dua puluh satu; tanggal kita bersatu.

Dari aku,

mejikuhibiniu-nya kamu :*

 

Advertisements

cerita bunga

Image

 

Gambar dari sini

Postingan pertama di tahun dua ribu tiga belas. Apa ya yang seru buat dibahas? Ohya, jadi inget curhatannya salah satu office girl di kantor beberapa sore yang lalu. Untuk mempermudah deskripsi dalam postingan ini, kita sebut saja namanya Bunga. Sore tadi, selesai antar dokumen di lantai tempat saya bekerja, Bunga mampir ke kubikal saya. Seperti biasa, kami hanya saling sapa dengan nada bercanda. Dia suka menggoda saya yang sering terbenam di tumpukan faktur dan retur pajak. Sementara saya suka menggoda bulu matanya yang saingan sama penyanyi anti badai papan atas itu. Tidak ada bincang penting memang. Tapi inilah cara kami untuk menunjukkan bahwa kami saling kenal, sebab Bunga memang bukan OG di lantai saya bekerja. Di sore yang mendung dan hujan yang tanggung, ada yang berbeda dari kunjungan Bunga ke tempat saya. Wajahnya nampak bingung dengan kegelisahan menggantung.

Sambil mengobrak-abrik stationary di meja saya, Bunga pun mulai berbicara. Dia langsung bilang “Mbak, umur lo berapa sih?”. Ya, selama dua tahun saya bekerja di perusahaan ini dan mengenal Bunga, dia memang selalu memanggil saya ‘mbak’. Ternyata, usia kami berdua sama. Hanya berbeda bulan saja. “Mbak, gue pengen merit Mbak”, katanya. Deg! Huaaa, perempuan seusia saya memang sudah sepantasnya memikirkan hal itu. Dan ketika Bunga bilang mbak-gue-pengen-merit, dalam hati pun saya mengucap wey-gue-juga-pengen-kali. Haha, curhat tiba-tiba gini saya. Doain yaa pembaca, saya memang pengen merit, akan tapi belum tau kapan. Doakan! *maksa*

Oke, kembali ke Bunga yang berkisah soal rencana pernikahannya yang akan dilaksanakan bulan depan, Februari, bulan kelahiran Bunga. Ternyata benar ada sesuatu dibalik wajah sendu Bunga saat bercerita sore itu. Bunga bilang, calon mempelai pria yang akan menikahinya adalah mantan kekasihnya dulu. Kisah kasih mereka yang lalu kandas sebab si pria berselingkuh dengan seorang janda. Maka dari itu, Bunga mengatakan dirinya masih trauma dengan pria tersebut. Namun, Ibu Bunga sudah memintanya segera menikah dengan pria itu. “Gue mah gimana emak gue aja deh, Mbak,” kata Bunga. Yang dikhawatirkan Bunga adalah kisah sedihnya dulu akan terulang kembali. Bunga bilang, “Selingkuh Mbak, kan ngeri gue kalo kayak gitu kan namanya kebiasaan. Mending kemarin gue masih pacaran, lah kalo besok udah nikah kan gue gak bisa apa-apa.”

Menurut saya, kondisi Bunga sore itu adalah sebenar-benarnya galau yang dimaksud. Sebagai sesama perempuan, saya berusaha mengerti ketakutan yang dihadapi Bunga. Sebagai perempuan yang pernah merasakan dikhianati *prett*, saya memahami itu adalah pilihan yang sulit. Dan sebagai perempuan yang pernah memberikan kesempatan kedua pada orang yang telah berlaku salah, saya takut keputusan Bunga menikah dengan pria itu adalah hal yang salah. Tapi semoga saja ketakutan-ketakutan yang menggoyahkan itu tidak akan sampai terjadi. Semoga Bunga bisa bahagia dengan pilihannya yang menuruti pilihan Ibunya. Saya yakin, seorang Ibu pasti mementingkan kebahagiaan anaknya. Selamat deg-deg-an, bride-to-be!

“Setiap orang berhak mendapatkan kesempatan kedua, tapi tidak semua orang dapat memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya.” — pesan untuk Bunga, yang saya katakan dalam hati saja.