cerita bunga

Image

 

Gambar dari sini

Postingan pertama di tahun dua ribu tiga belas. Apa ya yang seru buat dibahas? Ohya, jadi inget curhatannya salah satu office girl di kantor beberapa sore yang lalu. Untuk mempermudah deskripsi dalam postingan ini, kita sebut saja namanya Bunga. Sore tadi, selesai antar dokumen di lantai tempat saya bekerja, Bunga mampir ke kubikal saya. Seperti biasa, kami hanya saling sapa dengan nada bercanda. Dia suka menggoda saya yang sering terbenam di tumpukan faktur dan retur pajak. Sementara saya suka menggoda bulu matanya yang saingan sama penyanyi anti badai papan atas itu. Tidak ada bincang penting memang. Tapi inilah cara kami untuk menunjukkan bahwa kami saling kenal, sebab Bunga memang bukan OG di lantai saya bekerja. Di sore yang mendung dan hujan yang tanggung, ada yang berbeda dari kunjungan Bunga ke tempat saya. Wajahnya nampak bingung dengan kegelisahan menggantung.

Sambil mengobrak-abrik stationary di meja saya, Bunga pun mulai berbicara. Dia langsung bilang “Mbak, umur lo berapa sih?”. Ya, selama dua tahun saya bekerja di perusahaan ini dan mengenal Bunga, dia memang selalu memanggil saya ‘mbak’. Ternyata, usia kami berdua sama. Hanya berbeda bulan saja. “Mbak, gue pengen merit Mbak”, katanya. Deg! Huaaa, perempuan seusia saya memang sudah sepantasnya memikirkan hal itu. Dan ketika Bunga bilang mbak-gue-pengen-merit, dalam hati pun saya mengucap wey-gue-juga-pengen-kali. Haha, curhat tiba-tiba gini saya. Doain yaa pembaca, saya memang pengen merit, akan tapi belum tau kapan. Doakan! *maksa*

Oke, kembali ke Bunga yang berkisah soal rencana pernikahannya yang akan dilaksanakan bulan depan, Februari, bulan kelahiran Bunga. Ternyata benar ada sesuatu dibalik wajah sendu Bunga saat bercerita sore itu. Bunga bilang, calon mempelai pria yang akan menikahinya adalah mantan kekasihnya dulu. Kisah kasih mereka yang lalu kandas sebab si pria berselingkuh dengan seorang janda. Maka dari itu, Bunga mengatakan dirinya masih trauma dengan pria tersebut. Namun, Ibu Bunga sudah memintanya segera menikah dengan pria itu. “Gue mah gimana emak gue aja deh, Mbak,” kata Bunga. Yang dikhawatirkan Bunga adalah kisah sedihnya dulu akan terulang kembali. Bunga bilang, “Selingkuh Mbak, kan ngeri gue kalo kayak gitu kan namanya kebiasaan. Mending kemarin gue masih pacaran, lah kalo besok udah nikah kan gue gak bisa apa-apa.”

Menurut saya, kondisi Bunga sore itu adalah sebenar-benarnya galau yang dimaksud. Sebagai sesama perempuan, saya berusaha mengerti ketakutan yang dihadapi Bunga. Sebagai perempuan yang pernah merasakan dikhianati *prett*, saya memahami itu adalah pilihan yang sulit. Dan sebagai perempuan yang pernah memberikan kesempatan kedua pada orang yang telah berlaku salah, saya takut keputusan Bunga menikah dengan pria itu adalah hal yang salah. Tapi semoga saja ketakutan-ketakutan yang menggoyahkan itu tidak akan sampai terjadi. Semoga Bunga bisa bahagia dengan pilihannya yang menuruti pilihan Ibunya. Saya yakin, seorang Ibu pasti mementingkan kebahagiaan anaknya. Selamat deg-deg-an, bride-to-be!

“Setiap orang berhak mendapatkan kesempatan kedua, tapi tidak semua orang dapat memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya.” — pesan untuk Bunga, yang saya katakan dalam hati saja.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s