Kamis, Gerimis, dan Betis

Jakarta lumpuh. Mungkin dua kata tadi tepat menggambarkan kondisi ibukota pada Kamis, 17 Januari 2013 lalu. Hujan semalam suntuk yang mengguyur Jakarta dan sekitarnya, tetap berlanjut hingga keesokan paginya. Udara dingin samar-samar merasuki tubuh dan berkembang baik menjadi benih kemalasan. Kantor pun ingin sekali rasanya dihindari. Ingin sekali meliburkan diri. Meski hanya sehari.

Sebagai karyawan seperti saya, bekerja adalah kombinasi antara kewajiban dan kebutuhan. Saya menjalankan kewajiban, untuk memenuhi kebutuhan. Hhehe, dangkal sekali ya. Tidak sampai di situ saja sih. Bekerja juga kan proses aktualisasi diri dan upgrading pengetahuan dalam praktek nyata. Intinya ya dinikmati, disyukuri, (dan yang lebih baik pun harus dicari). Hhihi. Dan jadilah Kamis pagi itu saya memutuskan tetap ke kantor dengan menembus gerimis yang tak kunjung menyudahi tugasnya. Seperti biasa, saya berangkat ke kantor dengan naik mobil omprengan yang ngetem di dekat pintu tol Jatibening. Dengan kondisi gerimis dan pasca hujan semalaman, sudah dipastikan jalanan akan jadi lahan parkir empuk yang menguras kesabaran. Benar saja, masuk tol Jatibening pun amat sangat butuh perjuangan. Perjalanan selanjutnya pun tersendat di beberapai titik di ruas tol dalam kota yang saya lewati. Antri masuk tol Jatibening pukul 6, perjalanan dengan mandeg di sana sini, ditambah kekhawatiran sampai kantor terlambat dan resiko daily allowances yang dipotong. Akhirnya sekitar pukul 8 kurang 15 menit, saya berhasil keluar tol Kuningan. Seketika bayangan keterlamabatan dan pemotongan allowances sirna sudah. Saya masih berharap dengan waktu 15 menit masih bisa tiba di kantor tanpa telat, atau setidaknya masih dalamrange waktu toleransi keterlambatan 5 menit. Tapi sungguh prediksi saya meleset jauh sejauh-jauhnya. Masuk ke Rasuna Said mulai terjadi kepadatan yang tidak biasa, ditambah dengan hujan tipis-tipis yang tak dapat ditepis. Arloji di tangan saya menunjukkan pukul 8.40, posisi saya masih di depan Menara Kuningan. Penumpang omprengan yang saya naiki sisa 3 orang termasuk saya. Kemudian, kedua penumpang lain itu memutuskan turun di depan Menara Kuningan yang kondisinya dalam keadaan parkir berjamaah. Satu diantaranya bekerja di Plaza 89, dan satu lainnya akan menyebrangi jembatan halte Transjakarta Karet Kuningan itu. Suasana saat itu sungguh chaos, mobil-mobil yang terjebak kemacetan panjang, beberapa di antaranya berhasil memutar balik sesuai arahan Polisi yang berjaga pada waktu itu. BANJIRRRRR, Paaakkkk.. Puter balik aja, Paakkk. Kira-kira begitu yang dikatakan mas-mas yang berjaga di sekitar lokasi kemacetan. Dan benar saja, supir omprengan yang saya naiki melihat ada celah antara jalur lambat dan jalur cepat di bawah jembatan Karet Kuningan, dibantu mas-mas yang berjaga, berhasil muter balik. Bagaimana dengan saya? Tentu saya tidak ikut putar balik. Akhirnya saya turun di bawah jembatan tersebut dan melanjutkan perjalanan ke kantor saya yang terletak di seberang Gedung KPK dengan berjalan kaki. Iya, tidak salah ketik. Saya berjalan kaki.

Memutuskan jalan kaki saat itu saya rasa adalah keputusan yang baik. Tanggung sekali dan sia-sia sekali rasanya jika saya harus kembali ke rumah, padahal jaraknya tinggal sejengkal. Sejengkal raksasa tentunya. Saya pun menyusuri trotoar depan Setuabudi Building, dengan genangan air sebatas mata kaki. Saya perlahan jalan saya, sebab ada beberapa motor yang melintas dan menimbulkan cipratan tidak berperi-pejalan-kaki-an. Sampai di dekat jembatan halte Tranjakarta Kuningan Madya, suasana lebih carut marut. Ada metromini balik arah, ada kumpulan pengendara motor yang parkir di pinggir-pinggir. Saya yang se-slim ini pun harus melipir-melipir sedikit lewatnya. Akhirnya, pilar kantor saya mulai terlihat. Tapi sebentar, rasanya ada yang beda. Ada pemandangan aneh yang saya lihat pagi itu. Orang-orang berhenti dekat pintu masuk pelataran parkir gedung kantor saya. Ada banyak yang mengabadikan pemandangan di depannya. Tak ada satu pun kendaraan yang melintas. DAN YAK, DEPAN KANTOR SAYA BANJIR. PFFFTTTTT. Sudah kepalang tanggung setanggung-tanggungnya saya. Berdiri di depan kantor, tapi sulit masuk ke lobby sebab dihadang banjir. Sampai akhirnya ada satpam kantor yang melintas, saya tanya “Pak, bisa lewat ke dalem gak?”. Dijawabnya, bisa. Bapak satpam itu pun yang berinisiatif mengambil alih payung saya dan memayungi saya. Dengan tekad bulat dan niat yang kuat, saya memutuskan berbasah-basahan menerjang banjir di depan kantor sampai ke lobby.  Seberapa tinggi? Sebetis. Dan sungguh, 17 Januari 2013 adalah harinya saya bersinggungan dengan air; di hari Kamis, dalam gerimis, dan banjir sebetis.

Nah, yang penasaran sama rupa banjirnya depan kantor saya, boleh dilihat-lihat foto berikut ini yaaa 🙂

banjir rasuna

parkiran banjir