ini titipan, bukan buat jualan

Semakin hari, merasa semakin jarang sekali bercerita, jarang sekali menuliskannya. Hendak mengkambinghitamkan waktu, rasanya tidak tega juga. Ya mengakulah saya yang memang memanjakan diri pada kemalasan tak beralasan saja.

Postingan ini saya tulis di komputer kantor, di sela-sela load pekerjaan yang sedang adem ayem. Iya dong, kan masih awal bulan, masih bisa santai-santai-an. Memang, ritme kerja saya memuncak di akhir bulan, hingga beres laporan. Di awal bulan selanjutnya, saya bisa sejenak mengambil napas lega. Dan kali ini saya ingin membagi cerita yang ada hubungannya dengan lingkungan saya bekerja. Begini, sebagai pekerja di perusahaan distributor consumer goods, ada beberapa kesempatan bagi kami untuk mendapatkan barang-barang principal tersebut dengan penawaran khusus. Tentu tidak sesering yang kami inginkan, tapi untuk hal-hal seasonal rasanya penawaran khusus atau diskon bagi karyawan ini merupakan kabar menggembirakan yang sudah tentu membuat senyum kami mengembang.

Pada 27 Februari hingga 1 Maret ini, di kantor saya diselenggarakan bazar beberapa produk principal yang kami jual, seperti coklat, diapers, lampu, dan beberapa peralatan rumah tangga. Untuk beberapa produk tersebut bisa didapatkan hingga potongan harga 80%. Wowww, melek dong denger kata SALEEEE!!!! Kesempatan ini pun saya manfaatkan sebaik-baiknya untuk memborong beberapa produk yang biasa saya beli di pasaran. Begitu juga dengan rekan-rekan sepermainanku di kantor. Setelah perembukan yang alot dan pengambilan keputusan yang dramatis (halah, ini lebay), akhirnya kami memutuskan untuk menggabung pesanan kami dalam satu form pesanan yang disediakan. Dalam form tersebut terdapat uraian nama barang, harga, kuantitas, dan total yang harus dibayar. Sebab merupakan kumpulan pesanan dari ibu-ibu yang berbeda dan masing-masing banyak titipannya, jadilah membludak pesanan yang kami satukan dalam form tersebut. Dengan badan imut yang mudah menyelinap, tugas antri dan membayar ke kasir yang penuh sesak pun menjadi tugasku. Selesai membayar di kasir, tugas saya selanjutnya adalah mengambil barang yang dipesan. Dan ternyataaaa, kesemua titipan itu membuahkan berkardus-kardus belanjaan. *pingsan*

Bersama seorang teman sesama pemesan, saya pun bingung bagaimana membawa belanjaan kami ini selamat sampai di ruangan kami dari parkiran diselenggarakannya bazar. Teman saya yang sedang dalam kondisi hamil muda ini hendak murka. Bagaimana tega teman-teman pemesan lain membiarkan kami bertarung di tengah medan pertempuran diskon besar-besaran. Sekali lagi, seorang ibu hamil muda, dengan seorang gadis manis yang bobotnya tak lebih dari 45 kilogram. Tegaaaaa. Gimana bawanyaaa?? Sungguh tak diduga, setelah peluh dan keluh yang keluar dari kami, ada secercah harapan terang. Kami melihat sesosok OB (office boy) kami di kejauhan sedang tidak melakukan apa-apa. Lalu kami panggillah dia untuk membantu kami membawa belanjaan yang berkardus-kardus ini ke atas, ke ruangan kami. *hossshh, ceritanya aja capek guaaaaa, apalagi pas ngalaminnya*

Sampai di depan ruangan, kami bertemu dengan rekan-rekan sekantor di lantai yang sama. Pandangan mereka nampak aneh menyambut kedatangan kami. Belanjaan hasil potongan harga besar-besaran begitu menyita perhatian mereka rasanya. Wajar sih, berkardus-kardus yang kami bawa waktu itu mungkin menyiratkan pertanyaan bagi mereka. Apakah belanjaan sebanyak itu untuk dipakai sendiri, atau untuk dijual lagi? Dan benarnya, sapaan yang terlontar dari mulut mereka adalah “Wiihh, belanjanya banyak banget. Buat dijual lagi, ya?”. Hampir semua yang kami temui di jalan menyimpulkan demikian ternyata. Sayangnya, pernyataan mereka memprihatinkan bagi saya.

Memang, banyaknya belanjaan yang saya bawa waktu itu bukan semata pesanan pribadi saya. Ada banyak pesanan ibu-ibu lainnya, yang memercayai saya untuk dititip membelikannya (padahal menumbalkan gadis pembuat faktur ini panas-panasan di parkiran, hiksss). Yang membuat saya sedikit ingin bereaksi adalah pernyataan intimidasi dari orang-orang yang kami temui dengan tatapan yang menyatakan eh-lo-beli-barang-murah-banyak-buat-dijual-lagi-dasar-otak-oportunis. Nggak salah sih kalo mereka menilai demikian. Kita kan tidak bisa mengontrol pikiran orang lain. Saya jadi mikir, emang harus ya kalo gue beli banyak itu gue mau jual lagi? Emang nggak bisa kalo gue mau pake sendiri atau buat bagi-bagi? Penilaian rencana ingin resale­ itu rasanya sempit sekali. Capek-capekin aja resale cuma beberapa biji, hhihiSebab saya tahu, teman-teman yang menitipkan pesanannya pada saya itu sudah memperuntukkan pembelian belanjaan tersebut untuk dibagi-bagikan. Ada yang untuk kakaknya, adiknya, bahkan keponakannya yang memang keluarga besar. Seorang anggota keluarga yang berbahagia tentu ingin sekali keluarga lainnya turut merasakan yang sama. Saya pribadi pun demikian. Tidak terbersit sedikit pun untuk me-resale barang-barang yang saya beli dalam jumlah banyak itu. Ketika mengetahui ada promo pembelian paket coklat, saya teringat ibu saya yang suka membagikan kue-kue atau cemilan kecil yang biasa tersedia di lemari persediaan rumah kami kepada beberapa anak kecil tetangga yang suka main di depan rumah. Saya terpikir, ah coklat-coklat yang saya beli bisa untuk dibagikan ke krucil-krucil yang suka dengan riangnya menyapa saya “kaka” saat saya membuka pagar sepulang beraktivitas di luar rumah.

Saya jadi berpikir, apakah untuk bisa dilihat mampu berbagi kita harus sampai pada posisi berlebih? Jawabannya sama sekali tidak, kan? Yang penting ada niatnya, berbagi kan tinggal bagaimana pelaksanaannya. Dan meskipun barang yang dibagi tidak seberapa, tetapi niat dan tujuan untuk membahagiakan orang lain kan sudah merupakan point plus tersendiri. Dan berbagi pun tak perlu woro-woro terlalu dini. Maka ketika diberondong pertanyaan “mau dijual lagi?” yang dilontarkan orang-orang, cukup rasanya kami mengembangkan senyum secukupnya sambil berlalu dan membatin “it’s not you bussiness”.

Kalo saya bagikan ini, apa kamu maauuuu? 😉

chocolate eveywhere

chocolate eveywhere

*note: nggak perlu nunggu berlebih untuk berbagi. membagi sedikit dari yang kita punya sudah bisa berarti bagi orang lain, tinggal diniatkan saja. 🙂

Advertisements

2 responses

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s