istirahat

Beberapa minggu belakangan ini, rasanya kerja lagi capek-capeknya. Menyantap kemacetan pagi hari dan dibekali macet hingga sampai rumah kembali. Jarak antara rumah dan kantor saya sebenarnya wajar-wajar saja, Pondok Gede – Kuningan. Sudah dua tahun rutinitas sebagai pekerja commuter saya jalani. Tapi entah mengapa, sekitar sebulan terakhir ini saya merasa kemacetan yang saya hadapi setiap harinya berubah mengganas. Berangkat kantor, saya memanfaatkan jasa mobil omprengan Jatibening – Kuningan yang mangkal di depan Komplek Jatibening Tol (samping SPBU Shell). Pulang kantor, saya dan rekan kantor yang bertempat tinggal sekitar Bekasi, punya omprengan langganan yang lewat seberang kantor pukul 17.10. Memang sih, transportation expense saya per hari lebih besar dibandingkan dengan menggunakan Bus TJ. Tapi untuk alasan kenyamanan dan efisiensi waktu, rela-rela aja sih si gadis pembuat faktur ini merogoh kocek lebih dalam. Nah, saya yang tinggal duduk manis di perjalanan aja capeknya lagi berasa banget-banget, apalagi bapak-bapak supir omprengan saya tiap hari ya. Hehehe.

Pas lagi desperate-desperatenya macet meratapi aspal Rasuna Said, sering terlintas di pikiran saya untuk memutuskan ngekos di daerah deket kantor. Ya, pengennya sih sekalian belajar mandiri gitu. Saya udah tanya-tanya sama rekan kerja yang ngekos di deket kantor, udah kalkulasi biaya hidup sebulan disandingkan dengan record pendapatan, udah nyiapin mental dan segala macem alasan buat di-declare ke ayah ibu, akhirnya saya memutuskan untuk TIDAK JADI NGEKOS. Haha, udah panjang-panjang pertimbangannya ujungnya gagal lagi rencana terbang dari sangkar.

Jadi, sebelum saya menghadap ayah ibu untuk meminta izin melaksanakan misi dalam rangka memupuk kemandirian, terlebih dulu saya sounding rencana saya itu ke pacar. Dan rasanya saya bertanya pada orang yang salah. Ya, pacar saya demi ikatan dinasnya berjuang di pulau seberang yang hanya punya jatah pulang sekian bulan sekali. Itu pun hanya beberapa hari. Sebagai perantau di tanah orang, dia melihat rencana saya meninggalkan rumah dengan berat hati.

Awalnya dengan berbagai alasan saya kekeh mau tetep ngekos, tapi akhirnya ada beberapa hal yang saya simpulkan sehingga keputusan saya adalah tidak. Pertama, Ayah saya juga pejuang LDR, pekerja dengan tugas tidak sekota dengan keluarganya, hanya berada di rumah pada akhir pekan saja. Kalo saya pergi, rumah pasti lebih sepi. Ya biar gini-gini, saya kan banyak membantu di rumah, bantu-bantu ngabisin makanan. Kedua, dengan alasan ingin mandiri, sebenarnya itu terdengar seperti alasan yang dibuat-buat, hehehe. Sampai sebesar ini, saya tidak pernah menginggalkan rumah dalam waktu yang lama kecuali untuk urusan sekolah atau liburan yang tidak seberapa lama. Dan sampai saat inilah, bangun pagi saya selalu dibangunkan oleh ibu tercinta. Alarm tidak pernah berhasil menarik saya dari mimpi tidur yang kadang ada kadang tidak. Maka, hanya ibulah yang selalu dengan ikhlasnya membangunkan saya tepat subuh setiap harinya di kamar saya yang berada di lantai dua rumah kami. Jadi, kalo saya ngekos, nggak kebayang berapa daily allowances kantor yang dipotong karena saya telat bangun lalu telat ke kantor. Ketiga, posisi saya di kantor bukanlah yang akrab dengan fase lembur-sampai-malam. Bisa dihitung berapa kali saya tidak pulang tepat pukul 17.00, dan kalopun keluar kantor di atas 17.00, kemungkinan terbesar adalah saya mau ”beredar”. Jadi, dengan kemacetan dan jarak tempuh untuk bisa sampai rumah, masih dalam range waktu wajar sih. Ya semalem-malemnya pun saya sampai rumah, masih ada ibu dan adik-adik saya yang nungguin meski dengan mata kiyep-kiyep di depan tivi. At least, kami serumah masih sempat bertatap muka setiap harinya. Keempat, kayaknya untuk kalkulasi biaya hidup akan sangat membengkak deh kalo saya menambah sewa kosan dalam list bulanan saya. Apalagi kosan Jakarta kan harganya kadang suka bikin mulut nganga nggak udah-udah. Belum untuk meals kan, dan gawatnya lagi saya itu penyuka segala jajanan. Jadi, sudah dipastikan tak akan ada yang tersisa dalam saldo tabungan. Kelima, dua pria yang saya sayang; ayah dan ayang (pacar maksudnya), tinggal jauh dari keluarga demi bekerja. Mereka pasti sebenarnya ingin sekali berkumpul bersama keluarga di rumah. Lalu mengapa saya yang diberi kesempatan tinggal bersama malah ingin pergi. Hanya karena pertimbangan capek”.

Bahkan, beberapa teman saya yang harus bekerja jauh dari keluarga atas nama penempatan kerja, sering terdengar keluhan homesick dari mereka. Banyak yang ingin tinggal dengan keluarganya tapi harus melewati masa-masa jauhan karena pekerjaan. Seharusnya saya bisa lebih menerima, lebih bersyukur, dan tidak semata memenangkan ego sebagai tolak ukur. Banyak yang patut saya syukuri, pekerjaan saya salah satunya. “Capek ya wajar,” kata ibu saya setiap saya pulang kantor dan mengeluh capek. Alhamdulillah masih ngerasain capek, artinya masih ada yang bisa saya perjuangkan. Dan Alhamdulillah, saya dikelilingi orang-orang hebat yang tak lelah memberi saya semangat.

Mungkin memang belakangan ini saya merasa capek amat sangat, di situlah saya diingatkan untuk mengambil rehat. Saya tahu saya lelah, tapi saya hanya perlu waktu untuk sebentar rebah, bukan menyerah. Alhamdulillah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s