jatuh pada yang jauh

Coba tebak apa yang akan saya bahas dalam postingan berjudul seperti di atas? Plus seratus buat yang jawab tentang LDR. Berasa familiar nggak sih dengan kata LDR? Buat saya sih iya, familiar banget malah. Hehe.. Jadi memang sudah setahun belakangan ini saya menyandang status sebagai pejuang cinta jarak jauh, atau pejuang LDR, atau penabung rindu dengan jumlah deposit terbanyak. Saya di Jakarta, sementara belahan jiwa saya (halah) sedang bertugas di Papua. Bukan sekedar perjalanan dinas yang berlalu tidak lebih dari tiga minggu, ini sebuah ikatan dinas dengan komitmen tertentu.

Sebelum menginjakkan kakinya kembali di tanah paling timur Indonesia, hulk (sebut saja ini panggilan untuk pacar saya, demi memudahkan deskripsi dalam postingan ini) bertugas di Jambi. Selama tugas di Jambi, komunikasi kami baik, baik sekali. Ya walaupun nggak bisa ketemu tiap bulan juga sih. Setidaknya masih dalam satu zona waktu, WIB. Sementara itu, selepas kepindahannya ke Papua, komunikasi saya dan hulk mengalami perbedaan yang cukup tajam. Dari bentang geografisnya sudah bisa diduga kan bagaimana situasi dan kondisi persinyalan di sana. Segala pending dan pending sudah berhasil bikin kami jadi langganan pening. Belum lagi penyesuaian karena beda waktu  2 jam lebih awal yang dialami hulk. Lucunya, saya bangun tidur di Jakarta, hulk sudah rapi ada di meja kerjanya. Saya baru on bekerja, hulk di Papua sudah siap untuk istirahat siangnya. Sorenya, hulk sudah kembali ke mess untuk istirahat, justru saya masih bergulat dengan pekerjaan yang semakin penat. Setibanya saya di rumah, siap beristirahat, malah hulk sudah ke negeri impian di atas kasurnya yang padat. Nah loh, apalagi coba yang bisa dilakukan selain menyabar-nyabarkan diri sendiri atas segala penyesuaian yang tanpa henti.

LDR itu butuh banyak sabar, kalo nggak ya bisa buru-buru bubar. Selain harus menguatkan diri sendiri dengan segala adaptasi di sana sini, harus juga menguatkan diri dari sinisme kanan dan kiri. Kadang ya, orang lain seringkali memandang sebelah mata atas usaha kita. Atas apa yang kita perjuangkan, akan selalu ada barisan orang-orang yang dengan sengaja menyangsikan. Saya pribadi dengan sekuat hati berusaha menebal-nebalkan telinga saja setiap kali mendengar selentingan yang menyudutkan kaum ldr-ians. Banyak lho yang sinis sama pelaku relasi hati jarak jauh macam saya. Beberapa ‘panah’ yang sempat mampir ke telinga saya nih ya;

“Ngapain sih LDR, itu bukti lo nggak laku aja di sini. Makanya yang nyangkut orang lintas propinsi”. Hellooo, pernah denger nggak sih kalo jodoh itu nggak kemana? Well, soal laku dan nggak laku sih tergantung ya. Soal hati mah kan tergantung yang jalanin. Dan tergntung sreg-nya sama yang mana. Ada juga kok yang ditaksir sama orang satu kantor tapi tetap milih jomblo daripada maksain perasaannya. Dan fyi, hulk itu asal Jakarta sama seperti saya, cuma tugasnya aja yang kebagian di belahan bumi dengan hutan belantara.

“Ngapain sih LDR, emang enak cuma pacaran sama hp, webcam doang? Kalo sedih nggak bisa dipeluk, kalo seneng nggak bisa dipeluk.” Wooyyy, yang bilang enak juga siapeeeee. Saya yakin kok, jutaan pelaku romansa lintas kota akan lebih bahagia kalo berkesempatan bisa tinggal dalam koordinat garis lintang yang jauhnya nggak nyampe nyeberang pulau. Tapi kan keadaannya beda-beda. Sebab satu atau lain hal, beberapa pasangan dikondisikan dalam perbedaan letak menurut geografisnya (halah-banget). Dan kami sangat bersyukur pada perkembangan teknologi yang pesat sehingga prosesi pacar memacar tidak terhambat. Peran teknologi mendekatkan yang jauh sungguh terasa manfaatnya bagi kami yang hatinya dititipkan pada yang jauh. Dan kalo ada yang sekota tapi jarang ketemu dan komunikasinya nggak bagus, ya itu sih pilihan masing-masing. Kalo berlaku teknologi menjauhkan yang dekat, ya kesalahan ada pada usernya. Managemen pacar memacarnya yang perlu diperbaiki. Selain itu, managemen hati dan cuti pun harus di-maintain dengan baik. Biar kalo pacarmu balik, kamu bisa nemenin dia tanpa kelewatan barang sedetik (halah-lagi). Ehehehe..

“Ngapain sih LDR, lo di sini setia, siapa yang tahu dia di sana main gila”. Astaghfirullah. Ini amit-amit jabang baby deh kalo sampe kejadian yang beginian. Nah, faktor kepercayaan di sini banyak berperan. Kalo sama –sama punya tujuan yang baik keduanya, Insya Allah dimudahkan dalam hal saling menjaga. Karena kita nggak bisa 24 jam tahu bagaimana kondisinya, minta sama Yang Maha Pemilik Segala untuk selalu menjaga dia, caranya dengan berdoa. Kepercayaan itu kan kayak air laut, kadang pasang, kadang surut. Jadi, hati-hati sama gelombangnya ya. Semoga perahumu tetap tenang meski pasang menghadang.

“Jangan mau LDR kalo nggak ada rencana mau nikah.” Tralalalaaa, ini gong banget deh sodara-sodaraaaa. Untuk bentuk ‘perhatian’ yang macam begini baiknya ya dijadikan motivasi sih. Anggap saja itu doa dari mereka yang nggak mau usaha capek-capeknya kita jauhan tapi berakhir pada kesia-sia-an. Saya percaya, seperti yang sering hulk katakan berulang-ulang kali entah yang ke berapa, setiap rencana baik akan selalu menemukan jalannya. Dan saya mengamininya. Untuk ke sekian dan sekian kalinya.

Kurang lebih itulah pandangan saya tentang fenomena rajutan asmara beda kota dilihat dari sudut pandang pelaku sebagai pencerita (halah-again). Sebagai pelaku LDR, saya sih tetap berharap pasangan-pasangan lintas propinsi ini akan dipersatukan dalam kesempatan menetap di kota yang sama suatu hari nanti (amin, termasuk saya dan hulk, hehe..). Hubungan orang kan beda-beda, cara menciptakan kebahagiaannya juga beda-beda cara. Kalo ada yang bisa bertahan dengan LDR, ya dihargai. Pun jika ada yang gagal dalam LDR, ya diambil hikmahnya aja sih. Belum jodoh, masih ada kesempatan bertemu yang lebih baik lagi.

Saya sendiri sebagai pejuang cinta lintas pulau yang ingin sekali punya perangkat ajaib penggunting jarak, merasa bersyukur dengan teman, rekan, dan kerabat yang mendukung serta tak bosan-bosannya berpesan “yang kuat ya, yan.. sabar..”. Dan sesama pelaku LDR, ibu dan ayah saya pun mendukung keberlangsungan hubungan saya dengan hulk (GR banget nih kalo hulk-nya baca). Selalu ada wejangan-wejangan yang ngena di hati setiap kali hulk datang berkunjung di kala safari liburannya ke rumah. Jadi, ibu dan ayah saya adalah role model bagi saya. Sejak kecil hingga sekarang, saya pernah mengalami hubungan LDR dengan ayah. Dari yang ketemunya empat bulan sekali, dua bulan, hingga kini seminggu sekali beliau berkumpul bersama kami di rumah. Intinya, ada komitmen bersama untuk saling menjaga, saling mengaminkan dan mengamankan yang seharusnya dilakukan. Masing-masing orang punya pertimbangan dalam pengambilan keputusan-keputusan dalam hidupnya, termasuk apa yang dikorbankan dalam memilihnya.

Dan saya, memilih kamu untuk ditunggu.

Advertisements

saya mau

Saya mau, beberapa kali berangkat atau pulang kantor bareng sama pacar.

Saya mau, sesekali dikejutkan dengan “aku di kantin kantor kamu” saat genderang jam istirahat siang di kantor bergema.

Saya mau, sesenang-senangnya saya nunggu bubaran kantor hari Jumat, ada pesan masuk di ponsel yang berisi titah “nanti jangan bikin janji sama siapa-siapa ya, sore aku tunggu di parkiran”. Dengan kata lain terbitlah ajakan meraya-ria-kan Friday Night yang semacam pelepas dahaga bagi kami corporate slaves.

Saya mau, dibikinin bekal spagetti bolognese yang dibarter sama puding coklat sepaket sama fla vanilla-nya.

Saya mau, menghibahkan seluruh sayuran dari makanan pesanan saya. Atau merengek minta bala bantuan kamu menghabiskan makanan yang sudah kenyang saya lahap.

Saya mau, ada pahlawan kesiangan yang siap kapan saja menyelamatkan saya dari kebosanan sendirian di rumah dengan menculik saya ke tempat penuh keriaan.

Saya mau, di beberapa malam minggu ada yang menyalami tangan ayah dan ibu saya selepas “maaf om, tante, pulangnya kemaleman”.

Saya mau, sabar dan sadar menerima dengan legowo bahwa;

Belum ada lagi waktunya saya berangkat atau pulang kantor bareng pacar,

Belum ada lagi kejutan dalam pesan “aku di kantin kantor kamu” untuk merayakan genderang jam istirahat makan siang yang menggema.

Belum ada lagi pesan masuk di ponsel yang berisi titah “nanti jangan bikin janji sama siapa-siapa ya, sore aku tunggu di parkiran”.

Belum ada lagi barteran antara spagetti bolognese dengan puding coklat sepaket sama fla vanilla-nya.

Belum ada lagi kamu yang ikhlas saya hibahkan seluruh sayuran dari makanan pesanan saya. Belum ada lagi kamu yang rela menandaskan sisa-sisa perjuangan saya melahap makanan yang saya sudah kekenyangan.

Belum ada lagi kamu sang pahlawan kesiangan yang siap kapan saja menyelamatkan saya dari kebosanan sendirian di rumah dengan menculik saya ke tempat penuh keriaan.

Belum ada lagi kamu yang yang menyalami tangan ayah dan ibu saya selepas berkegiatan di malam minggu dengan akhiran “maaf om, tante, pulangnya kemaleman”.

Saya tahu apa yang saya mau, tapi kamu belum mampu. Dan saya di sini untuk kamu, masih mau menunggu, sebab menunggu adalah yang saya mampu.

*sampai jumpa di tiga bulan kedepan, hulk*