mei juni juli

Ketiga bulan yang menjadi judul postingan ini sama-sama berakhiran vokal –i. Dan untuk saya pribadi, ketiga bulan tersebut masing-masing punya rahasia tersendiri. Pada tahun-tahun sebelumnya, saya pernah merasakan patah hati pada tiga urutan bulan Masehi yang saya sebutkan tadi. Pernah putus di bulan Mei, pernah juga putus di bulan Juni. Bahkan pernah putus di bulan Juli, bulan yang selalu jadi bulan favorit saya, bulan kelahiran saya. Soal dengan siapa patah hati itu dan bagaimana ceritanya, tentu tak akan saya bahas dalam postingan ini.

Sejak tahun lalu, Juli saya kembali jadi Juli yang happy. Saya bertemu kembali dengan seseorang yang berhasil menempati hati dan mewarnai hari saya (yak, ini terdengar seperti pengakuan yang dibuat di bawah tekanan bukan :p). Sampai di hari ketujuh di bulan tujuh ini, entah mengapa hawa-hawanya kok kental sekali dengan hawa patah hati. Sepertinya semesta memiliki perjanjian tak tertulis yang mengharuskan saya mendengarkan playlist lagu-lagu patah hati. Bisa di bis, di kantor, di mall, juga di rumah. Belum lagi tambahan miskomunikasi yang saya hadapi, juga bentrok kepentingan disana sini.

Dari awal Juli, saya merasa jadi orang yang paling sigap setiap ada kesempatan untuk makan orang. Ya, khayalan ini sungguh berlebihan. Saya dibekap emosi yang meluap sejak awal Minggu, hingga tulisan ini saya publish. Rasanya, semua yang saya alami itu merupakan kesalahan-kesalahan, dan saya bebas untuk mencercanya. Mungkin ada pengaruh dari tamu rutin yang dialami kaum hawa. Mungkin loh ya, tapi penyebab kesalnya saya kan banyak juga, dan nggak bisa dibilang tiba-tiba. Beberapa diantaranya sudah jadi akumulasi sejak lama. Jadi bisa dibilang, ini saatnya meledak saja.

Saya mudah berubah menjadi kesal akan suatu hal. Dengan mudahnya menyalahkan keadaan. Padahal, jelas hanya sayalah yang membesar-besarkan masalah dan mendramatisir suasana. Hal sepele jadi masalah serius yang menyebabkan dahi orang-orang di sekitar saya berkerut. Sungguh, saya merasa menjadi orang paling menyebalkan dalam periode awal Juli ini. Hanya saja, orang di sekeliling saya menutupi hal itu demi menjaga mood saya. Mereka menerima atas nama memaklumi. Mereka, orang-orang yang menyayangi saya, mengerti akan perubahan yang terduga pada diri saya. Ah, betapa beruntungnya saya memiliki mereka semua.

Juli masih akan bergulir hingga akhir bulan yang jatuh di tanggal tiga puluh satu. Dan saya, ingin selalu Juli ini baik-baik saja. Juga untuk bulan-bulan ke depannya tentunya. Jangan sampai terulang Mei Juni Juli yang patah hati. Ehm, maksud saya, semoga tak akan pernah ada Januari, Februari, Maret, April, Mei, Juni, Juli, Agustus, September, Oktober, November, dan Desember yang patah hati.

Kamu, mari amini sepenuh hati.