Agustus Bagus

Huaaa… Kebiasaan deh baru inget buat posting-posting di blog kalo udah deket-deket ganti bulan. Kebiasaan buruk yang berkali-kali terulang ini sih. Buat saya, semua hari, tanggal, bulan, dan tahun yang saya lewati itu baik. Cuma kitanya aja yang kadang nggak bisa mengambil hikmahnya dengan baik. Tapi, ijinkan saya me-rekap beberapa kenangan bagus (menurut saya) yang sudah terlewati di Agustus tahun ini.

Yang paling spesial di Agustus tahun ini adalah tidak lain dan tidak bukan yaitu LEBARAN. Seneng banget doang bisa kembali merayakan hari kemenangan setelah sebulan lamanya menahan hawa napsu. Menariknya, lebaran tahun ini, saya dan keluarga pertama kali melewatkannya di rumah kami di Jakarta, tidak mudik. Setelah 25 tahun selalu menjalani tradisi mudik ke kampung halaman orang tua saya (iyaa, ketahuan deh kan umur saya), tahun ini kami memutuskan untuk tetap di Jakarta. Tak ada alasan spesifik sih dalam keputusan ini, sebatas ‘lagi pengen aja, kasihan rumahnya belom pernah di-lebaran-in’. Juga karena jadwal cuti bersama saya di kantor yang nggak asik, hahaha. Dan ternyataaa, lebaran di Jakarta itu sepi yaah. Jauh banget sama di kampung. Suasananya kurang greget dan kurang excited. tapi terlepas dari itu semua, saya bahagia tentunya. Bisa kembali berkumpul dengan keluarga tercinta dan kedatangan beberapa sanak saudara. Indahnya silaturahmi, indahnya berbagi, kalo pake salam tempel apalagi (halah, abaikan).

Pas libur lebaran kemarin juga, alhamdulillah partner saya dalam merajut tali kasih lintas propinsi dengan beda pembagian daerah waktu bisa pulang ke ibukota. Yeaayyy! Nggak tanggung-tanggung, hulk dapet jatah libur lebaran sekaligus jatah cuti lapangan. Jadilah dia di Jakarta tiga minggu. Ahey. Yaa, seseneng-senengnya, nggak genap tiga minggu juga sih ketemu sama sayanya. Banyak rekan dan kerabat yang harus hulk temui selama kepulangannya kali ini yang bertepatan dengan momen lebaran. Overall, saya seneng selama hulk pulang. Ngerasain lebaranan lagi sama dia, sempet buka puasa bareng juga meski saya lagi off puasa waktu itu. Ngerasain dijemput pulang kantor dan ditungguin lembur, ngerasain di-apel-in lagi, ngerasain dibalikin ke rumah lagi setelah kentjan seharian. Ahahahahak, geli banget sih bagian yang ini. Skip, next happiness please!

Nah, berita bagus selanjutnya datang di penghujung Agustus, tepatnya hari ini. Alhamdulillah, hari ini saya dinyatakan lulus USKP  A (Ujian Sertifikasi Konsultan Pajak) yang saya ikuti Juni lalu. Huaaa, akhirnya lulus juga. November 2012 saya ambil USKP A baru, lulus 5 mata ujian, 1 sisanya harus mengulang. Juni lalu saya mengulang, dan di Agustus ini saya dinyatakan lulus dan amat senaaangggg. Hehehehe.. Untuk selanjutnya, masih ada USKP B dan C. USKP B masih dalam rencana tahun ini, semoga bisa direalisasikan dengan persiapan yang lebih baik dari sebelumnya. Bismillah.

Last, tadi siang saya sempet ke dept store, dan menemukan dua sepatu lucu (versi saya, bukan versi on the spot) dengan special price. Sebelumnya, saya sudah mem-budget-kan sekian rupiah untuk target pencarian sepatu hari ini. Dan ternyataaa, hari ini saya mendapat dua pasang sepatu sekaligus dengan budget yang sudah saya siapkan cash on hand-nya tadi. Yaa namanya juga cewek. Belanja emang bikin seneng, belanja murah tapi mewah itu bikin seneng banget. Namanya rejeki kan nggak kemana, yaa.. Ehehehe..

Sekian deh yang bagus-bagus yang saya share tentang Agustusnya saya. Sampai ketemu di postingan selanjutnya. Semoga saya makin rajin ya, bukan posting pas akhir bulan aja.

Posting kok akhir bulan doang, emangnya closing kantor, yaaann?! *plaaakkk*

Advertisements

Sudahkah Anda bercermin hari ini?

sudahkah anda bercermin?

sudahkah anda bercermin?

Gambar diambil dari sini

Pagi tadi, tiba-tiba saya terlempar ke masa-masa sekolah SMP dan SMA dulu. Saat duduk di bangku sekolah dengan seragam itu, saya ingat bahwa di beberapa sudut sekolah saya dulu, dengan mudahnya dapat ditemui beberapa cermin dengan slogan “Sudahkah Anda bercermin hari ini?” di sekitar cermin tersebut. Dulu, kami di sekolah sangat ditanamkan budaya disiplin. Berkaitan dengan cermin, yaitu dari sisi penampilan, kami terbiasa dengan pakaian seragam yang sudah ada ‘aturannya’. Misalnya, panjang rok perempuan harus mencapai lima centimeter dari lutut, panjang badan kemeja harus bisa dimasukkan ke dalam rok, dan lengan kemejanya harus bisa diselipkan empat jari orang dewasa; yaitu jari guru-guru yang selalu memerhatikan kedisiplinan berpakaian kami. Selain itu, ikat pinggang juga wajib melekat di tubuh kami selama berada di lingkungan sekolah. Dengan adanya cermin-cermin itu, kami dididik untuk selalu berpenampilan sesuai aturan setiap saat. Setiap melewati titik-titik lokasi yang ada cerminnya, sekalian melintas kami bisa melihat apakah penampilan kami masih paripurna atau sudah berubah bentuknya. Misalnya, baju sudah keluar-keluar dari lekatannya pada bawahan kami. Kami dibiasakan melihat diri kami, lalu mengoreksi sesegera mungkin bila terdapat hal-hal yang kurang bagus.

Namun belakangan ini, tepatnya saat saya merasa mulai menjauh dari usia ABG, alias sok-sok-an merasa dewasa, banyak terdengar bahwa keberadaan cermin di sekolah memicu siswa-siswi menghabiskan waktu lama untuk bersolek dan mengganggu kegiatan belajar mengajar. Bahkan ada juga sekolah yang akhirnya meniadakan cermin di sekitar lingkungan sekolah sebab cerminnya sering diperuntukkan untuk berfoto-foto narsis bersama para siswa. Ini sih efek negatif dari peruntukkan suatu fasilitas yang dimanfaatkan tidak sesuai dengan tujuannya.

Kembali lagi ke penggunaan cermin di sekolah zaman-saya-smp-alias-udah-lama-banget. Pagi tadi, saya merenungkan soal slogan yang sering saya temui di dekat cermin di sekolah dulu, “Sudahkah Anda bercermin hari ini?”. Sekarang saya mengerti, pemahaman akan slogan tersebut tidak sesempit hanya berkisar untuk hal-hal yang berhubungan dengan penampilan. Lebih luas, bisa diterapkan pada kehidupan kita sehari-hari. Bercermin bukan hanya melihat rupa kita pada pantulan di cermin, lalu memeriksa ujung rambut hingga ujung kaki saja. Melihat diri sendiri, memeriksa bagian mana yang kurang baik, lalu mengambil langkah memperbaikinya dengan segera. Misalnya, saat bercermin kita melihat poni rambut berantakan, maka dengan segera kita akan merapikannya.

Sering sekali saya menemukan beberapa akun-akun yang saya follow di Twitter (dan saya akui, saya pun termasuk dalam kelompok manusia seperti ini), ngetwit soal si A begini, si B begitu, kondisi ini seperti itu, kondisi itu seperti ini. Memang, itu hak mereka dalam berkicau ria sih. Tapi kicauan-kicauan itu justru menampar saya telak dengan tepatnya. Prinsip bercermin tadi sebenarnya amat sangat bisa diterapkan dalam hal ini. Kini, dengan mudahnya, baik di dunia maya maupun nyata, kita seringkali terlalu prematur menilai orang lain dari A sampai Z. Tanpa disadari, apakah kita sudah memiliki kapasitas cukup baik untuk menilai orang lain demikian? Kita terlalu cekatan menduduki posisi sebagai penilai yang menganggap dirinya paling lihai. Dengan renungan cermin pagi tadi, saya jadi tersadar bahwa untuk menilai orang lain, nilailah diri sendiri terlebih dulu. Perhatikan baik-baik diri, lihat kekurangannya dimana, lalu lekas perbaiki temuannya. Pagi tadi saya diingatkan untuk melakukan introspeksi diri sendiri, sungguh masih sangat banyak kekurangan yang saya miliki sebagai seorang pribadi. Dan masih dalam keteduhan bulan suci ini, selama masih ada kesempatan yang Dia beri, mari tundukkan hati dan tenangkan diri, semangat memulai perubahan menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Bismillah.

You may stalk, assume, and judge. But first of all, make sure that the target is you.