Bertualang di Kota Udang (Hari 2)

Kelelahan sisa perjalanan semalam, kami pun bangun kesiangan. Mbak Wid meninggalkan kami di rumahnya untuk bekerja setengah hari. Di kantor saya, HO Jakarta libur di hari Sabtu, sementara cabang tetap masuk walau hanya setengah hari. Diselimuti malas sebab Cirebon disambangi gerimis, kami terpecut dengan pesan “ngapain ke kota orang kalo cuma mau tidur-tiduran”. Bangkit dari kasur dan bersiap-siap meluncur. Tak ada kata kesiangan untuk sarapan. Kami pun browsing sarapan enak khas Cirebon. Dengan bekal bertanya angkot kepada warga sekitar, kami tiba di kedai Bubur M. Toha yang ada di dekat stasiun. Lupa foto buburnya karena udah kalap sarapan. Buburnya gurih banget meski topingnya minimalis. Ada pilihan bubur ayam dan bubur kacang ijo. Tempatnya sempit, jadi first come first served gitu deh. Banyak juga yang take away bubur ini. Untuk harga sarapan 6.000 seporsi bubur ayam cukup bagi kami. Di sini juga tersedia telur setengah matang. Bisa dicoba 2 sekaligus bagi yang tertarik. Saya? Tentu tidak. Hehe.

Selesai sarapan, gerimis masih bertahan. Kami pun memutuskan untuk ke Keraton Kasepuhan dengan naik angkot. Angkot di Cirebon jauh dekat 3.000. Sebab dari turun angkot ke keraton masih harus ditempuh dengan jalan kaki, kami pun minta ke supirnya agar mengantar kami sampai depan keraton, dengan tambahan ongkos tentunya. Lumayan hemat energi untuk disalurkan ke penjelajahan keraton.

Untuk masuk ke Keraton Kasepuhan ini pengunjung dipungut biaya 8.000 per orang. Dan juga disediakan guide yang akan mendampingi sepanjang penjelajahan keraton (dan untuk bantuin kita foto-foto) hehe. Banyak hal menarik yang ada di keraton ini. Semua yang tertata di dalamnya mempunyai kisah uniknya masing-masing. Setiap ukiran, setiap warna, bentuk maupun rupa di keraton ini mempunyai maksud dan tujuan yang baik. Saya hanya bisa angguk-angguk kepala dan membatin “iya juga ya” dalam setiap penjelasan yang dikemukakan guide kami hari itu.

Berikut ini foto-foto yang akan berbicara penjelajahan kami di Keraton Kasepuhan Cirebon.

wpid-mtf_lMhbw_1856.jpg

wpid-IMG-20140118-WA0020.jpg

wpid-IMG-20140118-WA0000.jpg

Siang sudah menantang. Perut kami pun sudah berperang lantang. Siap dengan Empal Gentong yang akan menyerang. Kami tiba ke Kedai Empal Gentong Mang Dharma yang terletak di daerah Krucuk, samping kantor bank BTN. Dari keraton, cukup naik angkot D2, lalu langsung lewat di depannya. Kami memesan empal gentong dengan lontong. Dinginnya Cirebon pas sekali dikawinkan dengan gurih dan hangatnya empal yang langsung berhasil menyelamatkan kekosongan di perut kami.

wpid-mtf_lMhbw_1864.jpgMenu empal gentong ini bisa disajikan dengan nasi atau lontong. Pilihannya bisa empal isi daging saja, atau campur dengan jeroan dan kawan-kawannya. Berbeda dengan kudapan sejenis soto lainnya , yang unik adalah sambalnya yang menggunakan bubuk cabai halus yang sudah dikeringkan. Harga per porsi empal di sini 20.000.

Selesai menandaskan sajian empal, kami mencari masjid terdekat untuk menunaikan sholat dzuhur. Bingung dengan tujuan selanjutnya, kami pun menelepon Mbak Wid untuk meminta rekomendasi tujuan. Niatnya kami ingin ke pusat Batik di Trusmi, tapi Mbak Wid menawarkan untuk mengantar kami kesana sore nanti. Soalnya dari tempat kami saat itu ke Trusmi lumayan jauh. Okelah, kami pun nurut.

Kami akhirnya bertanya kira-kira dimana tempat asik dan unik untuk foto-foto. Diarahkanlah kami ke Gedung Negara Kresidenan di Cirebon, tepatnya di Jalan Diponegoro. Kami sendiri bingung, sebenarnya gedung ini tempat kunjungan atau bukan. Tapi saat izin ke petugasnya untuk masuk, kami pun dipersilakan dengan baik. Arsitektur gedung ini menarik. Ada taman-taman yang ditata dengan apik. Ada juga sekawanan rusa dan kijang yang dipelihara. Dan yang amat menarik adanya pohon besar yang dipagari sangkar. Di dalamnya terdapat sekawanan burung merpati yang dipelihara.

wpid-20140118_141148.jpg

Kami menghabiskan waktu bersantai sejenak di sini. Foto-foto berbagai gaya dengan bantuan tripod dan tongsis. Sore yang tenang, cemal-cemil bekal dengan senang. Entahlah, mungkin orang-orang yang melihat kami di sana menilai kami sebagai orang aneh karena foto-foto terus. Tapi serius, foto-foto di sini tuh bagus. Nih kalo nggak percaya. Bagus kaannn, apalagi modelnya.

wpid-IMG-20140119-WA0002.jpg

Puas berfoto, kami memutuskan untuk ke alun-alun kota. Dengan angkot GG 06, kami tiba di pelataran alun-alun yang masih sekawasan dengan Masjid Agung At-Taqwa. Kami menyempatkan diri untuk makan Tahu Gejrot di sekitar alun-alun. Tahu goreng yang dibubuhi kuah manis, ditambah dengan gerusan bawang dan cabe ekstra. Segar untuk dilahap di sore yang berawan.

wpid-IMG-20140119-WA0000.jpg

Tahu gejrot habis disantap, berkumandanglah adzan ashar. Kami pun sholat berjamaah di Masjid Agung At-Taqwa. Masjid ini luas sekali, bersih, dan sungguh rapi. Di sini pulalah meeting point kami dengan Mbak Wid yang baru selesai dengan pekerjaannya.

Tujuan selanjutnya adalah berburu batik di Trusmi. Begitu memasuki daerah ini, banyak sekali terpampang baliho iklan toko sentra batik. Masuk ke pertokoan ini sungguh memanjakan mata. Hamparan kain aneka motif dan berbagai warna begitu menyegarkan pandangan saya yang sehari-hari akrab dengan Excell. Rasanya mau ambil semua, tapi harus logis karena saya nggak bisa bawanya. Kan besok pulang naik kereta dan harus naik angkot lagi ke rumah. Belanja secukupnya, dan mikirin barang-barang tak terbeli setelahnya. Hahaha.

wpid-20140118_164229.jpg

Cuaca sepertinya menyuruh kami untuk menyudahi perburuan batik. Hujan deras saudara-saudara. Jalanan pun sudah digenangi air. Takut air semakin meluap dan susah keluar, kami memutuskan untuk meninggalkan lokasi itu segera. Dan ya. Sudah lapar lagi dong ya setelah keliling-keliling menghabiskan tenaga. Maka terdamparlah kami di gerai Empal Asem H. Apud di daerah Plered. Empal asem ini sebenernya mirip empal gentong, tapi dengan kuah yang berbeda versi. Kuah empal asem itu bening dan banyak belimbing wuluhnya.

wpid-20140118_180542.jpg

Kenyang melahap empal asem, kami berniat melanjutkan photo session di depan kantor walikota. Walaupun gerimis, tapi tak menyurutkan semangat kami untuk tetap eksis. Bagus deh fotonya. Haha.

tetep eksis meski gerimis

tetep eksis meski gerimis

Tujuan foto selanjutnya adalah depan gedung BI. Tetapi karena hujan semakin mengganas, rencana tersebut tinggallah kenangan. Kami pun memutuskan untuk pulang ke rumah Mba Wid, beristirahat untuk jadwal esok yang lebih padat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s