2015 DAN KEJUTANNYA

Halooooo.. Apa kabar taman bermain semut abu-abu? Hampir dua tahun lamanya saya sama sekali tidak pernah membuka halaman ini. Banyak sih alasannya. Mulai dari laptop yang lemot, modem yang sakit-sakitan, juga alasan kesibukan yang membuat saya tidak sempat mampir ke taman mejikuhibiniu ini. Dan satu alasan terbesar dan terkuat penyebab tidak adanya cerita baru yang saya bagikan tidak lain dan tidak bukan adalah faktor kemalasan. Huhuhu, poor me!

Baiklah, di postingan ini saya tidak ingin menjelaskan mengapa baru sekarang kembali ke peradaban tulis menulis dan cerita-ceritaan ini. Ijinkan postingan saya di akhir 2015 ini (sepertinya postingan pertama di tahun ini juga, hehehe) menjadi catatan rekap perjalanan berharga dan pengingat di tahun yang penuh kejutan dan pembelajaran ini.

Banyak hal yang saya lewati, dari sisi pekerjaan, hubungan dengan keluarga, teman dan rekan, juga pasangan serta sederet pelajaran berharga lainnya yang sebenarnya sayang sekali jika tidak saya bagikan ceritanya. Tapi ya karena niatnya postingan ini merupakan remarks dari perjalanan selama tahun 2015, jadi cukup poin-poinnya saja dulu ya yang saya ceritakan. Untuk detilnya, Insya Allah akan saya sempatkan merapikan draft yang sudah lama teronggok manis memenuhi memori komputer jinjing yang sedang saya gunakan untuk menulis postingan ini. Ada apa saja sih di 2015-nya saya? Coba dilirik dulu kakak-kakaaaak..

  • Lamaran dan Persiapan Pernikahan

Duileeee, ujug-ujug banget nih bahas lamaran sama persiapan pernikahan, Mpoookk? Hhihihi. Iya, setelah akhir tahun 2014 saya dan hulk (nggak lupa dong sama panggilan kesayangan saya dan pasangan) melewati masa perkenalan keluarga besar, setelah itu resmilah kami menggencarkan diri mempersiapkan keperluan pernikahan kami. Memang kapan sih nikahnya? Niat awal saya dan hulk sih abis lebaran fitri 2015, atau sekitar Agustus September. Namun apa mau dikata jika orang tua menginginkan lebih cepat dari itu. Setelah melewati masa penggodokan penentuan tanggal, maka bulan Mei-lah yang ditentukan untuk jadi hari bersejarah buat kami. Boook, kalo ditotal-total, dari awal persiapan sampai hari H itu memakan waktu lima bulan saja loooh. Coba dibayangkan betapa padatnya persiapan pernikahan selama lima bulan dengan kondisi kedua mempelai LDR Jakarta dan Kawasan Susah Sinyal di pulau paling timur Indonesia? Ribet? Iya. Susah? Iya. But we made it, hehehe.

Persiapan pernikahan yang kelihatan ya pastinya gedung, katering, urusan KUA, baju, undangan, suvenir, hiburan, foto baik prewedding maupun saat acara berlangsung, dan turut serta meramaikan persiapan ini adalah printilan yang sering menyita fokus dalam pikiran calon pengantin.

IMG_20141221_195115

21122014

Alhamdulillah kami dikelilingi keluarga dan sahabat yang begitu mencintai kami sehingga persiapan pernikahan ini berjalan dengan baik hingga hari H tiba. Terima kasih semuanyaaaa 🙂

  • Bonusan

Sebagai babu kantoran, apa sih yang diharapkan pada akhir tahun? Tentunya penilaian kinerja yang baik dan sejalan kemudian adalah imbalan balik yang menarik. Ya, akhirnya merasakan bonusan dengan posisi baru di kantor. Alhamdulillah, hasilnya bisa untuk bantu-bantu bayar cicilan katering hajatan waktu itu. Tips juga nih, kalo ngadain hajatan bisa setelah bonusan kantor, lumayan buat nambahin uang dapur hehehe.

  • Pernikahan

Akhirnya hari itu tiba, 24 Mei 2015 saya dan hulk melangsungkan pernikahan dengan balutan adat Jawa di salah satu gedung di bilangan Cililitan, Jakarta Timur. Acara berlangsung padat dan khidmat sejak pagi hingga siang hari. Kehadiran tamu dari keluarga dan kolega, juga teman dan rekan pun turut menambah kebahagiaan kami kala itu. Alhamdulillah semua dilancarkan, dimudahkan, dan terbayarlah semua yang sudah kami fokuskan untuk hari bersejarah kami. Akhirnya sah menjadi suami istri bersama hulk, si muka seram tapi hatinya bikin saya tentram (halaaahhh…)

IMG_20151024_204808

Mr&Mrs Ardhanantyo

  • Bulan Madu BBB (Bali, Batu, Bekasi)

Wohooo, yang ditunggu berbulan-bulan selain sahnya menjadi suami istri adalah tidak lain dan tidak bukan adalah honeymoon. Yeaaayyy, kami memilih Bali, Batu, dan Bekasi untuk menjadi destinasi bulan madu kami. Sebetulnya kami lebih suka menyebutnya liburan daripada bulan madu, karena ya memang sekian tahun pacaran kami nggak pernah liburan keluar kota barengan. Maklum LDR kan ya, jadi kalo ketemu yang singkat, padat, namun hangat (halahhhh again). Tujuan wisata kami ke sebenarnya ya memang hanya Bali dan Batu, Bekasi yaa memang tempat yang kami tinggali. Biar lucu aja sih kedengerannya dinamain bulan madu BBB, biar ear-catching aja kayak nama grup vokal yang pernah hits pada masanya itu.

Perjalanan liburan kami sangat menyenangkan. Menghabiskan waktu ke tempat-tempat baru yang belum pernah kami kunjungi bersama. Seru-seru norak gitu deh, hahaha.

IMG-20151228-WA0001

Pengantin Baru

IMG-20151228-WA0002

Di Museum Angkut+, Batu Malang

  • Operasi Polip Serviks

Di usia pernikahan kami menginjak bulan keempat (dua bulan sempet LDR), ada kondisi dimana saya mengalami keluhan di bagian kewanitaan saya. Dengan pertimbangan dan dorongan suami, akhirnya kami memutuskan segera berkonsultasi dengan dokter kandungan. Rasanya deg-degan dan dunia lagi proses mau runtuh deh waktu pertama kali ke obgyn untuk melewati pemeriksaan dalam. Dan hasilnya, saya menderita polip serviks. Penyakit apa sih itu? Intinya adalah ada jaringan yang tumbuh pada mulut rahim saya. Dan karena ukurannya sudah cukup besar, maka jalan yang harus diambil adalah pembedahan. Tanpa banyak berpikir, Rabu saya ketemu dokter, Sabtunya langsung dijadwalkan operasi. But hey, jangan takut berlebihan dulu. Penyakit ini memang mengganggu tapi (kebanyakan) tidak berbahaya. Alhamdulillah, saya menjalani operasi pengangkatan polip serviks pada 10 Oktober 2015 dengan lancar, tanpa menginap, hanya one day care di rumah sakit.

  • Positif Hamil

Beberapa waktu sebelum tahu bahwa saya hamil, saya seringkali merasa seperti masuk angin dan kecapekan. Sampai pada waktunya saya kontrol ke obgyn pasca operasi itu, saat USG dokter saya bilang di rahim saya terlihat ada kantung kehamilan. Wah, saya dan suami deg-degan tapi excited banget dengernya. Setengah nggak percaya sudah ada janin yang mendiami rahim saya. Alhamdulillah. Saya memang merasa telat seminggu bulan itu, tetapi saya berpikir “oh mungkin karena efek dari pasca operasi”, maka saya abaikan perubahan-perubahan yang tidak biasa dalam diri saya, sampai akhirnya saya diyakini positif hamil saat cek lab di rumah sakit. Woooww, im gonna be a mom!

IMG-20151220-WA0001

13weeks preggy

  • Kehamilan Trimester Pertama

Banyak perubahan baik yang saya sadari maupun tidak terjadi saat saya memasuki usia awal kehamilan. Setiap pagi, biasanya saya mual hingga harus muntah di kamar mandi. Ya, orang menyebutnya morning sickness. Nafsu makan saya pun bertambah, tetapi saya lebih cepat capek dan pegal. Payudara membesar dan perut terasa sering kembung. Dan yang tidak bisa dihilangkan dari hamil muda ini adalah “ngidam-ngidam lucu”. Untungnya sih saya nggak minta yang macem-macem tengah malem. Ya wajar aja rasanya ketika saya kepinginan suatu makanan gitu, pokonya yang saya rasa akan menggugah selera. Biasanya juga saya latahan. Misal ada temen kantor makan apa, besoknya saya pesan makanan itu. Atau lihat temen posting foto makanan di suatu tempat, pulang kantor saya akan merengek ke suami untuk makan di tempat itu. Ada-ada saja memang.

Begitulah sekilas rekap perjalanan saya di 2015 yang banyak memberikan perubahan besar dalam hidup saya. Sayang sekali saya baru bisa menceritakannya dalam poin-poin saja, padahal banyak hal detil yang ingin saya bagikan. Semoga saya bisa segera membagi ceritanya ke teman-teman yang mampir ke taman mejikuhibiniu ini yaaa. Sampai jumpa di postingan selanjutnya!

 

Love,

Mrs. Ardhanantyo

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Bertualang di Kota Udang (Hari 3)

Minggu pagi dan semangat kami untuk berpetualang sungguh menggebu-gebu. Perburuan pertama adalah kue tradisional yang sudah hampir langka di Cirebon, kue tapel. Menelusuri bagian dari pasar, kami pun akhirnya menemukan penjual kue unik ini. Pedangan kue yang kami temui merupakan pedagang tapel turun temurun. Dengan wajan warisan dari tetuanya, pedangan ini melayani pesanan kami dengan sabar. Sebab pembuatan kue ini benar-benar satu per satu secara bergantian, kami pun harus mempertebal kesabaran. Kue tapel ada dua rasa, pertama yang klasik, yaitu gula jawa seharga 3.000. Dan favorit saya, isi pisang plus gula jawa, seharga 3.500. Bahan kue ini yaitu kelapa dan tepung beras.
wpid-20140119_085504.jpg

Sambil menunggu pesanan, saya memesan kue apem yang dijual di kedai sampingnya. Kue apem di sini disajikan dengan saos gula merah cair, dan ditaburi kelapa parut. Saya lebih suka kue apemnya saja tanpa gula, lebih gurih. Saos gulanya terlalu manis buat saya. Makanan saya nggak perlu manis-manis bangetlah, lha wong orangnya aja sudah manis. 

Misi selanjutnya yang sudah dipersiapkan dari Jakarta adalah makan nasi jamblang. Singgahlah kami ke kedai Nasi Jamblang Ibu Nur di dekat Grage Mall. Nasi jamblang sendiri adalah nasi yang dibungkus daun jati. Lauk pauknya dihidangkan prasmanan berjejer dalam baskom-baskom besar. Yang juara untuk dicoba adalah cumi tinta hitam atau yang biasa disebut blekutek. Sambel di sini juga saya suka, tidak terlalu pedas. Ini nih nasi jamblang dengan menu pilihan saya.

wpid-20140119_094954.jpg

Selesai menyantap nasi jamblang dengan garang, kami melanjutkan petualangan ke Gua Sunyaragi di Jalan Evakuasi. Tiket masuk ke area ini sebesar 8.000. Sunyaragi terdiri dari kata sunyi dan raga. Artinya, gua untuk mengistirahatkan raga dalam sunyi. Terdiri banyak gua yang ditujukan untuk keperluan zaman kerajaan terdahulu, seperti dapur, tempat penyimpanan logistik, tempat untuk latihan perang, dan tempat untuk bersembunyi . View-nya keren dan bikin nggak pengen merem. Bangunan di sini terbuat dari batu karang dan kapur. Di salah satu sisinya, ada relief gajah dan burung garuda dililit ular. Maksud dari relief ini adalah, ketika manusia kedudukannya sampai ke atas, harus tetap ingat bawah.

gua sunyaragi

gua sunyaragi

Puas berkeliling Gua Sunyaragi, kami menempuh ke arah atas menuju Kuningan. Tepatnya ke peninggalan sejarah Linggarjati di daerah Beber. Ini merupakan lokasi diadakannya konferensi Linggarjati. Di sini terdapat meja konferensi, kamar-kamar delegasi dari berbagai negara. Taman di sekitarnya pun sungguh asri. Furnitur di sini ada yang sudah diperbarui ada yang masih asli.

di salah satu sudut rumah perjanjian linggarjati

di salah satu sudut rumah perjanjian linggarjati

Mengingat waktu yang semakin mengejar, kami memutuskan kembali ke kota Cirebon. Dalam perjalanan, kami mampir ke restoran yang menarik perhatian, Klapa Manis. Pemandangannya bagus dan menarik untuk disinggahi. Letaknya di pinggir jalan persis dan eye catching. Desain di restoran ini unik dan full kayu. Suasana dan pemandangannya mirip dengan Dago Atas Bandung. Hamparan hijau yang meneduhkan.

landscape RM Kelapa Manis

landscape RM Kelapa Manis

Di restoran ini kami hanya memesan cemilan untuk mengganjal perut karena mengejar untuk sampai kota agar tidak terlalu sore. Takut ketinggalan kereta.

can't hardly wait to eat them!

can’t hardly wait to eat them!

Habis-habisan ngemil dan ketawa-ketawa, kami masuk kota Cirebon dan langsung menuju toko oleh-oleh untuk membeli buah tangan untuk orang rumah. Kami menyebut diri kami backpacker cinta keluarga. Maksudnya, berangkat cuma bawa tas ransel, pulangnya bawa kardus berbagai macam isinya.

backpacker sayang keluarga, banyak deh oleh-olehnya

backpacker sayang keluarga, banyak deh oleh-olehnya

Oleh-oleh dari Cirebon bisa berupa kerupuk udang dan segala olahan udang lainnya, jeniper (jeruk nipis peras), dan aneka sambal. Kalap berbelanja, kami harus segera kembali ke tempat menginap untuk bersiap-siap lalu mengejar kereta di stasiun.

Di perjalanan, mata dan perut kami lagi-lagi ingin dimanjakan. Tahu petis yang jadi sasaran. Penjual tahu petis ini biasa membuka dagangannya pada sore hari. Sebenarnya tahu goreng ini adalah tahu tawar yang hanya diciprati bubuk garam. Tapi sambel petisnya itu yang bikin iman goyah. Enaknya nempel di lidah.

Tepat setengah enam sore kami meninggalkan rumah Mbak Wid yang selama dua malam menjadi tempat kami bernaung. Dalam perjalanan menuju stasiun, kami melihat gerai Docang yang baru buka. Maka dengan keteguhan hati untuk mencoba makanan yang s atu ini, dan meyakinkan diri bahwa makannya cepat, kami pun turun dan makan dengan lahap. Docang merupakan makanan khas Cirebon yang terdiri dari lontong, toge, daun singkong rebus, disiram kuah oncom dan ditaburi parutan kelapa. Ditambah dengan kerupuk putih dan sambal hijau yang menggugah, docang hangat ini sukses masuk ke perut kami di detik-detik terakhir menuju stasiun. Alhamdulillah to-eat-list yang satu ini sudah tercapai.

docang, kemari sini aku mamam sayang!

docang, kemari sini aku mamam sayang!

Sampai stasiun, kami berpisah dengan Mba Wid yang sudah berbaik hati mau direpotin oleh lima perempuan yang suka ngakak dan makan. Kami masuk stasiun dengan kembali diiringi lagu Warung Podjok. Ternyata, kereta Cirebon Express yang akan mengantar kami kembali ke Jakarta delay. 45 menit kami menunggu di jalur kedatangan kereta. Tak mau menyia-nyiakan waktu, kami pun sibuk foto-foto dengan barang bawaan seperti mbak-mbak mau mudik.

Terima kasih tongsis yang sudah menjadi partner berfoto dalam jalan-jalan kali ini.

tongsis a.k.a tongkat narsis

tongsis a.k.a tongkat narsis

19.30 kereta yang kami naiki pun berangkat dari Stasiun Kejaksan Cirebon. Bye, 0231!

Stasiun Kejaksan, Cirebon

Stasiun Kejaksan, Cirebon

Di antara kencangnya laju ular besi yang mengantar ke Jakarta, saya berpikir. Saat berangkat Jumat sore lalu, mungkin banyak diantara penumpang kereta tersebut yang hendak bertemu keluarganya. Namun saya dan teman-teman lainnya, diantar oleh kereta tersebut untuk menemukan keluarga baru. Indahnya silaturahmi.

Bertualang di Kota Udang (Hari 2)

Kelelahan sisa perjalanan semalam, kami pun bangun kesiangan. Mbak Wid meninggalkan kami di rumahnya untuk bekerja setengah hari. Di kantor saya, HO Jakarta libur di hari Sabtu, sementara cabang tetap masuk walau hanya setengah hari. Diselimuti malas sebab Cirebon disambangi gerimis, kami terpecut dengan pesan “ngapain ke kota orang kalo cuma mau tidur-tiduran”. Bangkit dari kasur dan bersiap-siap meluncur. Tak ada kata kesiangan untuk sarapan. Kami pun browsing sarapan enak khas Cirebon. Dengan bekal bertanya angkot kepada warga sekitar, kami tiba di kedai Bubur M. Toha yang ada di dekat stasiun. Lupa foto buburnya karena udah kalap sarapan. Buburnya gurih banget meski topingnya minimalis. Ada pilihan bubur ayam dan bubur kacang ijo. Tempatnya sempit, jadi first come first served gitu deh. Banyak juga yang take away bubur ini. Untuk harga sarapan 6.000 seporsi bubur ayam cukup bagi kami. Di sini juga tersedia telur setengah matang. Bisa dicoba 2 sekaligus bagi yang tertarik. Saya? Tentu tidak. Hehe.

Selesai sarapan, gerimis masih bertahan. Kami pun memutuskan untuk ke Keraton Kasepuhan dengan naik angkot. Angkot di Cirebon jauh dekat 3.000. Sebab dari turun angkot ke keraton masih harus ditempuh dengan jalan kaki, kami pun minta ke supirnya agar mengantar kami sampai depan keraton, dengan tambahan ongkos tentunya. Lumayan hemat energi untuk disalurkan ke penjelajahan keraton.

Untuk masuk ke Keraton Kasepuhan ini pengunjung dipungut biaya 8.000 per orang. Dan juga disediakan guide yang akan mendampingi sepanjang penjelajahan keraton (dan untuk bantuin kita foto-foto) hehe. Banyak hal menarik yang ada di keraton ini. Semua yang tertata di dalamnya mempunyai kisah uniknya masing-masing. Setiap ukiran, setiap warna, bentuk maupun rupa di keraton ini mempunyai maksud dan tujuan yang baik. Saya hanya bisa angguk-angguk kepala dan membatin “iya juga ya” dalam setiap penjelasan yang dikemukakan guide kami hari itu.

Berikut ini foto-foto yang akan berbicara penjelajahan kami di Keraton Kasepuhan Cirebon.

wpid-mtf_lMhbw_1856.jpg

wpid-IMG-20140118-WA0020.jpg

wpid-IMG-20140118-WA0000.jpg

Siang sudah menantang. Perut kami pun sudah berperang lantang. Siap dengan Empal Gentong yang akan menyerang. Kami tiba ke Kedai Empal Gentong Mang Dharma yang terletak di daerah Krucuk, samping kantor bank BTN. Dari keraton, cukup naik angkot D2, lalu langsung lewat di depannya. Kami memesan empal gentong dengan lontong. Dinginnya Cirebon pas sekali dikawinkan dengan gurih dan hangatnya empal yang langsung berhasil menyelamatkan kekosongan di perut kami.

wpid-mtf_lMhbw_1864.jpgMenu empal gentong ini bisa disajikan dengan nasi atau lontong. Pilihannya bisa empal isi daging saja, atau campur dengan jeroan dan kawan-kawannya. Berbeda dengan kudapan sejenis soto lainnya , yang unik adalah sambalnya yang menggunakan bubuk cabai halus yang sudah dikeringkan. Harga per porsi empal di sini 20.000.

Selesai menandaskan sajian empal, kami mencari masjid terdekat untuk menunaikan sholat dzuhur. Bingung dengan tujuan selanjutnya, kami pun menelepon Mbak Wid untuk meminta rekomendasi tujuan. Niatnya kami ingin ke pusat Batik di Trusmi, tapi Mbak Wid menawarkan untuk mengantar kami kesana sore nanti. Soalnya dari tempat kami saat itu ke Trusmi lumayan jauh. Okelah, kami pun nurut.

Kami akhirnya bertanya kira-kira dimana tempat asik dan unik untuk foto-foto. Diarahkanlah kami ke Gedung Negara Kresidenan di Cirebon, tepatnya di Jalan Diponegoro. Kami sendiri bingung, sebenarnya gedung ini tempat kunjungan atau bukan. Tapi saat izin ke petugasnya untuk masuk, kami pun dipersilakan dengan baik. Arsitektur gedung ini menarik. Ada taman-taman yang ditata dengan apik. Ada juga sekawanan rusa dan kijang yang dipelihara. Dan yang amat menarik adanya pohon besar yang dipagari sangkar. Di dalamnya terdapat sekawanan burung merpati yang dipelihara.

wpid-20140118_141148.jpg

Kami menghabiskan waktu bersantai sejenak di sini. Foto-foto berbagai gaya dengan bantuan tripod dan tongsis. Sore yang tenang, cemal-cemil bekal dengan senang. Entahlah, mungkin orang-orang yang melihat kami di sana menilai kami sebagai orang aneh karena foto-foto terus. Tapi serius, foto-foto di sini tuh bagus. Nih kalo nggak percaya. Bagus kaannn, apalagi modelnya.

wpid-IMG-20140119-WA0002.jpg

Puas berfoto, kami memutuskan untuk ke alun-alun kota. Dengan angkot GG 06, kami tiba di pelataran alun-alun yang masih sekawasan dengan Masjid Agung At-Taqwa. Kami menyempatkan diri untuk makan Tahu Gejrot di sekitar alun-alun. Tahu goreng yang dibubuhi kuah manis, ditambah dengan gerusan bawang dan cabe ekstra. Segar untuk dilahap di sore yang berawan.

wpid-IMG-20140119-WA0000.jpg

Tahu gejrot habis disantap, berkumandanglah adzan ashar. Kami pun sholat berjamaah di Masjid Agung At-Taqwa. Masjid ini luas sekali, bersih, dan sungguh rapi. Di sini pulalah meeting point kami dengan Mbak Wid yang baru selesai dengan pekerjaannya.

Tujuan selanjutnya adalah berburu batik di Trusmi. Begitu memasuki daerah ini, banyak sekali terpampang baliho iklan toko sentra batik. Masuk ke pertokoan ini sungguh memanjakan mata. Hamparan kain aneka motif dan berbagai warna begitu menyegarkan pandangan saya yang sehari-hari akrab dengan Excell. Rasanya mau ambil semua, tapi harus logis karena saya nggak bisa bawanya. Kan besok pulang naik kereta dan harus naik angkot lagi ke rumah. Belanja secukupnya, dan mikirin barang-barang tak terbeli setelahnya. Hahaha.

wpid-20140118_164229.jpg

Cuaca sepertinya menyuruh kami untuk menyudahi perburuan batik. Hujan deras saudara-saudara. Jalanan pun sudah digenangi air. Takut air semakin meluap dan susah keluar, kami memutuskan untuk meninggalkan lokasi itu segera. Dan ya. Sudah lapar lagi dong ya setelah keliling-keliling menghabiskan tenaga. Maka terdamparlah kami di gerai Empal Asem H. Apud di daerah Plered. Empal asem ini sebenernya mirip empal gentong, tapi dengan kuah yang berbeda versi. Kuah empal asem itu bening dan banyak belimbing wuluhnya.

wpid-20140118_180542.jpg

Kenyang melahap empal asem, kami berniat melanjutkan photo session di depan kantor walikota. Walaupun gerimis, tapi tak menyurutkan semangat kami untuk tetap eksis. Bagus deh fotonya. Haha.

tetep eksis meski gerimis

tetep eksis meski gerimis

Tujuan foto selanjutnya adalah depan gedung BI. Tetapi karena hujan semakin mengganas, rencana tersebut tinggallah kenangan. Kami pun memutuskan untuk pulang ke rumah Mba Wid, beristirahat untuk jadwal esok yang lebih padat.

kado yang akan datang

berjuta rasanya dan wonderfully stupid

berjuta rasanya dan wonderfully stupid

Rabu sore kemarin, saya baru tahu kalo pengumuman kelulusan USKP sudah terpampang di websitenya. Dengan berbekal perasaan deg-deg-an takut kenyataan tak seindah harapan, saya pun membuka pengumuman itu di bus dalam perjalanan pulang dari kantor. Duh, loadingnya lama banget. Sama seperti jalannya bus yang saya tumpangi sore itu, lelet karena macet. Dan taraaaa, hasil USKP B yang saya jalani akhir November lalu berbuah kelulusan 4 mata ujian, dan 1 mata ujian yang harus saya ulang di periode kemudian.

Dengan berbunga-bunga, jempol saya langsung ingin mengabarkan berita ini ke hulk melalui pesan singkat dari ponsel.

Me : Pengumuman USKP udah ada, aku lulus 4, ngulang 1. Kadoo donggg, kadooooo :p
Him : Wah, Alhamdulillah.. Selamat ya, sayaangg.. Iya, kadonya juga nanti akan datang.
Me : Iyaa tau. Maret kan kadonya dateng, dari pulau paling ujung. (maksudnya maret adalah jadwal mudik hulk ke jakarta)
Him : Haha. Iya kalo yang itu maah.

Tak disangka, tak diduga. Sesampainya saya di rumah, ternyata ada sebuah paket terbungkus sampul coklat di meja belajar. Sekilas saya lihat, ada logo pemesanan buku online tertera disana. Dan benar, paket itu berisi buku yang siap saya lahap dengan tak sabar. Dan ya, pengirimnya siapa lagi kalo bukan hulk, si pacar yang sedang merantau di tanah paling timur Indonesia.

Sebagai pelaku romansa lintas pulau, kami memang terbiasa bersahabat dengan jasa pengiriman barang dan jasa pemesanan barang online. Ternyata inilah yang hulk maksud dengan “kadonya nanti juga akan datang”. Dan buku-buku ini, dipesan oleh hulk untuk menemani saya di long weekend akhir Januari ini. Namanya juga LDR, ya harus menyiasati keadaan dalam ketiadaan. I do love surprise, and you, hulk.

By the way, happy long weekend.
Let’s reading!