Kelas Womenpreneur; Dim Sum dan Pempek

Di tempat saya bekerja, ada kegiatan rutin yang dinamakan Virus Womenpreneur. Difasilitasi oleh bagian CSR. Kegiatan kali ini adalah kelas womenpreneur; pelatihan praktek pembuatan aneka dim sum dan pempek. Bekerja sama dengan Lembaga Pendidikan Keterampilan dan Kewirausahaan (LPKK) De Mono, Sabtu lalu saya dan beberapa rekan kerja wanita menghabiskan waktu seharian untuk belajar membuat aneka dim sum dan pempek. Kegiatan ini juga diikuti oleh beberapa istri karyawan.

Buat saya pribadi yang jarang sekali menyentuh dapur beserta peralatan di dalamnya, kelas ini sungguh menarik. Ini kali kedua bagi saya mengikuti kelas memasak seperti ini. Sebelumnya pernah juga, dan dari kantor juga. Hanya rekan penyelenggaranya yang berbeda. Pengalaman saya di kelas memasak sebelumnya bisa dilihat disini.

Dengan dresscode ungu, saya excited sekali mengikuti kelas hari itu.

pasukan ungu siap ke dapur

pasukan ungu siap ke dapur

Beberapa menu yang saya dan kelompok coba praktekkan antara lain bakpao, hakau udang, dimsum goreng, pempek, dan bakso ikan. Berikut sedikit contekannya.

Hakau Udang

hakau udang

hakau udang

Bahan untuk kulit:

Tepung Tang Mien 300 gr

Air mendidih 400 cc

Minyak sayur 4 sdm

Sagu 100 gr

Bahan untuk isi:

Udang kupas 250 gr

Garam 1 sdt

Gula pasir 1 sdm

Merica 1,5 sdt

Minyak wijen 1 sdm

Maizena 1 sdt

Putih telur 1 butir

Cara membuat kulit:

Aduk tepung dengan air mendidih hingga rata, masukkan minyak, sagu, aduk rata hingga licin.

Cara membuat isi:

Campur semua bahan dan haluskan.

Ambil adonan kulit secukupnya, tipiskan, lalu isi dan bentuk sampai bahan habis.

Lalu kukus hakau sampai matang.

Pempek

pempek

pempek

Bahan 1:

Ikan tenggiri 500 gr

Air es 10 sdm

Garam 2 sdt

Vetsin 0,5 sdt

Sagu 650 gr

Bahan 2 (untuk biang):

Terigu 50 gr

Air 400 cc

Garam 2 sdm

Gula pasir 1 sdt

Bawang putih 3 siung

Vetsin 1 sdt

Minyak 2 sdm

Proses pembuatan:

Bahan 1: Campur ikan dengan air es, vetsin dan garam. Aduk rata, masukkan sagu. Bentuk, lalu rebus di air mendidih hingga matang.

Bahan 2 untuk biang: Campur semua bahan biang jadi satu. Aduk rata, masak sampai matang dan kental. Terakhir masukkan minyak. Dinginkan.

Cara membuat pempek: Campur 2 bagian ikan + 1 bagian adonan biang, aduk rata, masukkan sagu secukupnya. Aduk rata kembali. Bentuk, lalu rebus di air mendidih sampai matang.

Kuah Cuka Pempek

Bahan:

Gula 500 gr

Asam jawa 100 gr

Gula pasir 8 sdm

Air 10 gelas

Bawang putih 10 siung

Rawit halus 100 gr

Tongcay halus 2 sdm

Garam secukupnya

Cuka secukupnya

Ebi (sangrai dan haluskan)

Pelengkap:

Timun secukupnya

Mie secukupnya

Cara pembuatan:

Campur gula merah, asam ajwa, tongcay, gula pasir, dan air rebus sampai mendidih. Angkat, dan saring.

Kemudian tambahkan cuka, garam, cabe, dan bawang putih. Lalu didihkan lagi, angkat.

Cara penyajian:

Letakkan pempek yang sudah dipotong-potong di atas mangkuk. Tambahkan potongan timun, mie. Lalu siram dengan kuah cuka. Siap dihidangkan.

 

Semoga bermanfaat ya. Selamat mencoba.

 

Advertisements

Bertualang di Kota Udang (Hari 3)

Minggu pagi dan semangat kami untuk berpetualang sungguh menggebu-gebu. Perburuan pertama adalah kue tradisional yang sudah hampir langka di Cirebon, kue tapel. Menelusuri bagian dari pasar, kami pun akhirnya menemukan penjual kue unik ini. Pedangan kue yang kami temui merupakan pedagang tapel turun temurun. Dengan wajan warisan dari tetuanya, pedangan ini melayani pesanan kami dengan sabar. Sebab pembuatan kue ini benar-benar satu per satu secara bergantian, kami pun harus mempertebal kesabaran. Kue tapel ada dua rasa, pertama yang klasik, yaitu gula jawa seharga 3.000. Dan favorit saya, isi pisang plus gula jawa, seharga 3.500. Bahan kue ini yaitu kelapa dan tepung beras.
wpid-20140119_085504.jpg

Sambil menunggu pesanan, saya memesan kue apem yang dijual di kedai sampingnya. Kue apem di sini disajikan dengan saos gula merah cair, dan ditaburi kelapa parut. Saya lebih suka kue apemnya saja tanpa gula, lebih gurih. Saos gulanya terlalu manis buat saya. Makanan saya nggak perlu manis-manis bangetlah, lha wong orangnya aja sudah manis. 

Misi selanjutnya yang sudah dipersiapkan dari Jakarta adalah makan nasi jamblang. Singgahlah kami ke kedai Nasi Jamblang Ibu Nur di dekat Grage Mall. Nasi jamblang sendiri adalah nasi yang dibungkus daun jati. Lauk pauknya dihidangkan prasmanan berjejer dalam baskom-baskom besar. Yang juara untuk dicoba adalah cumi tinta hitam atau yang biasa disebut blekutek. Sambel di sini juga saya suka, tidak terlalu pedas. Ini nih nasi jamblang dengan menu pilihan saya.

wpid-20140119_094954.jpg

Selesai menyantap nasi jamblang dengan garang, kami melanjutkan petualangan ke Gua Sunyaragi di Jalan Evakuasi. Tiket masuk ke area ini sebesar 8.000. Sunyaragi terdiri dari kata sunyi dan raga. Artinya, gua untuk mengistirahatkan raga dalam sunyi. Terdiri banyak gua yang ditujukan untuk keperluan zaman kerajaan terdahulu, seperti dapur, tempat penyimpanan logistik, tempat untuk latihan perang, dan tempat untuk bersembunyi . View-nya keren dan bikin nggak pengen merem. Bangunan di sini terbuat dari batu karang dan kapur. Di salah satu sisinya, ada relief gajah dan burung garuda dililit ular. Maksud dari relief ini adalah, ketika manusia kedudukannya sampai ke atas, harus tetap ingat bawah.

gua sunyaragi

gua sunyaragi

Puas berkeliling Gua Sunyaragi, kami menempuh ke arah atas menuju Kuningan. Tepatnya ke peninggalan sejarah Linggarjati di daerah Beber. Ini merupakan lokasi diadakannya konferensi Linggarjati. Di sini terdapat meja konferensi, kamar-kamar delegasi dari berbagai negara. Taman di sekitarnya pun sungguh asri. Furnitur di sini ada yang sudah diperbarui ada yang masih asli.

di salah satu sudut rumah perjanjian linggarjati

di salah satu sudut rumah perjanjian linggarjati

Mengingat waktu yang semakin mengejar, kami memutuskan kembali ke kota Cirebon. Dalam perjalanan, kami mampir ke restoran yang menarik perhatian, Klapa Manis. Pemandangannya bagus dan menarik untuk disinggahi. Letaknya di pinggir jalan persis dan eye catching. Desain di restoran ini unik dan full kayu. Suasana dan pemandangannya mirip dengan Dago Atas Bandung. Hamparan hijau yang meneduhkan.

landscape RM Kelapa Manis

landscape RM Kelapa Manis

Di restoran ini kami hanya memesan cemilan untuk mengganjal perut karena mengejar untuk sampai kota agar tidak terlalu sore. Takut ketinggalan kereta.

can't hardly wait to eat them!

can’t hardly wait to eat them!

Habis-habisan ngemil dan ketawa-ketawa, kami masuk kota Cirebon dan langsung menuju toko oleh-oleh untuk membeli buah tangan untuk orang rumah. Kami menyebut diri kami backpacker cinta keluarga. Maksudnya, berangkat cuma bawa tas ransel, pulangnya bawa kardus berbagai macam isinya.

backpacker sayang keluarga, banyak deh oleh-olehnya

backpacker sayang keluarga, banyak deh oleh-olehnya

Oleh-oleh dari Cirebon bisa berupa kerupuk udang dan segala olahan udang lainnya, jeniper (jeruk nipis peras), dan aneka sambal. Kalap berbelanja, kami harus segera kembali ke tempat menginap untuk bersiap-siap lalu mengejar kereta di stasiun.

Di perjalanan, mata dan perut kami lagi-lagi ingin dimanjakan. Tahu petis yang jadi sasaran. Penjual tahu petis ini biasa membuka dagangannya pada sore hari. Sebenarnya tahu goreng ini adalah tahu tawar yang hanya diciprati bubuk garam. Tapi sambel petisnya itu yang bikin iman goyah. Enaknya nempel di lidah.

Tepat setengah enam sore kami meninggalkan rumah Mbak Wid yang selama dua malam menjadi tempat kami bernaung. Dalam perjalanan menuju stasiun, kami melihat gerai Docang yang baru buka. Maka dengan keteguhan hati untuk mencoba makanan yang s atu ini, dan meyakinkan diri bahwa makannya cepat, kami pun turun dan makan dengan lahap. Docang merupakan makanan khas Cirebon yang terdiri dari lontong, toge, daun singkong rebus, disiram kuah oncom dan ditaburi parutan kelapa. Ditambah dengan kerupuk putih dan sambal hijau yang menggugah, docang hangat ini sukses masuk ke perut kami di detik-detik terakhir menuju stasiun. Alhamdulillah to-eat-list yang satu ini sudah tercapai.

docang, kemari sini aku mamam sayang!

docang, kemari sini aku mamam sayang!

Sampai stasiun, kami berpisah dengan Mba Wid yang sudah berbaik hati mau direpotin oleh lima perempuan yang suka ngakak dan makan. Kami masuk stasiun dengan kembali diiringi lagu Warung Podjok. Ternyata, kereta Cirebon Express yang akan mengantar kami kembali ke Jakarta delay. 45 menit kami menunggu di jalur kedatangan kereta. Tak mau menyia-nyiakan waktu, kami pun sibuk foto-foto dengan barang bawaan seperti mbak-mbak mau mudik.

Terima kasih tongsis yang sudah menjadi partner berfoto dalam jalan-jalan kali ini.

tongsis a.k.a tongkat narsis

tongsis a.k.a tongkat narsis

19.30 kereta yang kami naiki pun berangkat dari Stasiun Kejaksan Cirebon. Bye, 0231!

Stasiun Kejaksan, Cirebon

Stasiun Kejaksan, Cirebon

Di antara kencangnya laju ular besi yang mengantar ke Jakarta, saya berpikir. Saat berangkat Jumat sore lalu, mungkin banyak diantara penumpang kereta tersebut yang hendak bertemu keluarganya. Namun saya dan teman-teman lainnya, diantar oleh kereta tersebut untuk menemukan keluarga baru. Indahnya silaturahmi.

Bertualang di Kota Udang (Hari 2)

Kelelahan sisa perjalanan semalam, kami pun bangun kesiangan. Mbak Wid meninggalkan kami di rumahnya untuk bekerja setengah hari. Di kantor saya, HO Jakarta libur di hari Sabtu, sementara cabang tetap masuk walau hanya setengah hari. Diselimuti malas sebab Cirebon disambangi gerimis, kami terpecut dengan pesan “ngapain ke kota orang kalo cuma mau tidur-tiduran”. Bangkit dari kasur dan bersiap-siap meluncur. Tak ada kata kesiangan untuk sarapan. Kami pun browsing sarapan enak khas Cirebon. Dengan bekal bertanya angkot kepada warga sekitar, kami tiba di kedai Bubur M. Toha yang ada di dekat stasiun. Lupa foto buburnya karena udah kalap sarapan. Buburnya gurih banget meski topingnya minimalis. Ada pilihan bubur ayam dan bubur kacang ijo. Tempatnya sempit, jadi first come first served gitu deh. Banyak juga yang take away bubur ini. Untuk harga sarapan 6.000 seporsi bubur ayam cukup bagi kami. Di sini juga tersedia telur setengah matang. Bisa dicoba 2 sekaligus bagi yang tertarik. Saya? Tentu tidak. Hehe.

Selesai sarapan, gerimis masih bertahan. Kami pun memutuskan untuk ke Keraton Kasepuhan dengan naik angkot. Angkot di Cirebon jauh dekat 3.000. Sebab dari turun angkot ke keraton masih harus ditempuh dengan jalan kaki, kami pun minta ke supirnya agar mengantar kami sampai depan keraton, dengan tambahan ongkos tentunya. Lumayan hemat energi untuk disalurkan ke penjelajahan keraton.

Untuk masuk ke Keraton Kasepuhan ini pengunjung dipungut biaya 8.000 per orang. Dan juga disediakan guide yang akan mendampingi sepanjang penjelajahan keraton (dan untuk bantuin kita foto-foto) hehe. Banyak hal menarik yang ada di keraton ini. Semua yang tertata di dalamnya mempunyai kisah uniknya masing-masing. Setiap ukiran, setiap warna, bentuk maupun rupa di keraton ini mempunyai maksud dan tujuan yang baik. Saya hanya bisa angguk-angguk kepala dan membatin “iya juga ya” dalam setiap penjelasan yang dikemukakan guide kami hari itu.

Berikut ini foto-foto yang akan berbicara penjelajahan kami di Keraton Kasepuhan Cirebon.

wpid-mtf_lMhbw_1856.jpg

wpid-IMG-20140118-WA0020.jpg

wpid-IMG-20140118-WA0000.jpg

Siang sudah menantang. Perut kami pun sudah berperang lantang. Siap dengan Empal Gentong yang akan menyerang. Kami tiba ke Kedai Empal Gentong Mang Dharma yang terletak di daerah Krucuk, samping kantor bank BTN. Dari keraton, cukup naik angkot D2, lalu langsung lewat di depannya. Kami memesan empal gentong dengan lontong. Dinginnya Cirebon pas sekali dikawinkan dengan gurih dan hangatnya empal yang langsung berhasil menyelamatkan kekosongan di perut kami.

wpid-mtf_lMhbw_1864.jpgMenu empal gentong ini bisa disajikan dengan nasi atau lontong. Pilihannya bisa empal isi daging saja, atau campur dengan jeroan dan kawan-kawannya. Berbeda dengan kudapan sejenis soto lainnya , yang unik adalah sambalnya yang menggunakan bubuk cabai halus yang sudah dikeringkan. Harga per porsi empal di sini 20.000.

Selesai menandaskan sajian empal, kami mencari masjid terdekat untuk menunaikan sholat dzuhur. Bingung dengan tujuan selanjutnya, kami pun menelepon Mbak Wid untuk meminta rekomendasi tujuan. Niatnya kami ingin ke pusat Batik di Trusmi, tapi Mbak Wid menawarkan untuk mengantar kami kesana sore nanti. Soalnya dari tempat kami saat itu ke Trusmi lumayan jauh. Okelah, kami pun nurut.

Kami akhirnya bertanya kira-kira dimana tempat asik dan unik untuk foto-foto. Diarahkanlah kami ke Gedung Negara Kresidenan di Cirebon, tepatnya di Jalan Diponegoro. Kami sendiri bingung, sebenarnya gedung ini tempat kunjungan atau bukan. Tapi saat izin ke petugasnya untuk masuk, kami pun dipersilakan dengan baik. Arsitektur gedung ini menarik. Ada taman-taman yang ditata dengan apik. Ada juga sekawanan rusa dan kijang yang dipelihara. Dan yang amat menarik adanya pohon besar yang dipagari sangkar. Di dalamnya terdapat sekawanan burung merpati yang dipelihara.

wpid-20140118_141148.jpg

Kami menghabiskan waktu bersantai sejenak di sini. Foto-foto berbagai gaya dengan bantuan tripod dan tongsis. Sore yang tenang, cemal-cemil bekal dengan senang. Entahlah, mungkin orang-orang yang melihat kami di sana menilai kami sebagai orang aneh karena foto-foto terus. Tapi serius, foto-foto di sini tuh bagus. Nih kalo nggak percaya. Bagus kaannn, apalagi modelnya.

wpid-IMG-20140119-WA0002.jpg

Puas berfoto, kami memutuskan untuk ke alun-alun kota. Dengan angkot GG 06, kami tiba di pelataran alun-alun yang masih sekawasan dengan Masjid Agung At-Taqwa. Kami menyempatkan diri untuk makan Tahu Gejrot di sekitar alun-alun. Tahu goreng yang dibubuhi kuah manis, ditambah dengan gerusan bawang dan cabe ekstra. Segar untuk dilahap di sore yang berawan.

wpid-IMG-20140119-WA0000.jpg

Tahu gejrot habis disantap, berkumandanglah adzan ashar. Kami pun sholat berjamaah di Masjid Agung At-Taqwa. Masjid ini luas sekali, bersih, dan sungguh rapi. Di sini pulalah meeting point kami dengan Mbak Wid yang baru selesai dengan pekerjaannya.

Tujuan selanjutnya adalah berburu batik di Trusmi. Begitu memasuki daerah ini, banyak sekali terpampang baliho iklan toko sentra batik. Masuk ke pertokoan ini sungguh memanjakan mata. Hamparan kain aneka motif dan berbagai warna begitu menyegarkan pandangan saya yang sehari-hari akrab dengan Excell. Rasanya mau ambil semua, tapi harus logis karena saya nggak bisa bawanya. Kan besok pulang naik kereta dan harus naik angkot lagi ke rumah. Belanja secukupnya, dan mikirin barang-barang tak terbeli setelahnya. Hahaha.

wpid-20140118_164229.jpg

Cuaca sepertinya menyuruh kami untuk menyudahi perburuan batik. Hujan deras saudara-saudara. Jalanan pun sudah digenangi air. Takut air semakin meluap dan susah keluar, kami memutuskan untuk meninggalkan lokasi itu segera. Dan ya. Sudah lapar lagi dong ya setelah keliling-keliling menghabiskan tenaga. Maka terdamparlah kami di gerai Empal Asem H. Apud di daerah Plered. Empal asem ini sebenernya mirip empal gentong, tapi dengan kuah yang berbeda versi. Kuah empal asem itu bening dan banyak belimbing wuluhnya.

wpid-20140118_180542.jpg

Kenyang melahap empal asem, kami berniat melanjutkan photo session di depan kantor walikota. Walaupun gerimis, tapi tak menyurutkan semangat kami untuk tetap eksis. Bagus deh fotonya. Haha.

tetep eksis meski gerimis

tetep eksis meski gerimis

Tujuan foto selanjutnya adalah depan gedung BI. Tetapi karena hujan semakin mengganas, rencana tersebut tinggallah kenangan. Kami pun memutuskan untuk pulang ke rumah Mba Wid, beristirahat untuk jadwal esok yang lebih padat.

Bertualang di Kota Udang (hari 1)

wpid-PicsArt_1392108930010.jpg

Kami lima perempuan sebaya yang haus liburan bersama. Hasil kongkow akhir bulan Desember lalu, kami memesan tiket perjalanan pulang pergi Jakarta – Cirebon untuk pertengahan Januari. Kenapa Cirebon ya? Saya sendiri bingung jawabnya. Intinya, kami ingin melewatkan liburan bersama, tapi yang tidak perlu ambil cuti. Diputuskanlah Cirebon, yang bisa ditempuh dengan kereta kurang lebih 3 jam. Dan memang sudah terbayang-bayang akan kemolekan kulinernya yang khas. Hingga tibalah jadwal liburan kami, 17 – 19 Januari 2014.

Beberapa hari sebelum keberangkatan, saya menghubungi kepala cabang kantor saya yang ada di Cirebon, Mbak Wid. Maksud hati ingin sekedar tanya-tanya soal hotel di sana, Mbak Wid  malah menawarkan diri untuk menjemput kami di stasiun malam itu. Maka bersorai-sorailah kami sepenuh hati. Jumat sore sepulang kantor, saya dan teman-teman bertemu di Stasiun Gambir. Kami akan menempuh perjalanan menuju Kota Udang dengan menaiki kereta Cirebon Express. Bertolak dari Gambir pukul 18.40, kami tiba di Stasiun Kejaksan Cirebon sekitar 10.20. Selama perjalanan, kami sungguh bersemangat. Mulai dari foto-foto, ketawa-ketawa, dan makan malam bekal belanjaan kami dari Jakarta. Lumayan pegel juga ya duduk lama sehabis pulang kerja.
wpid-20140117_192842.jpgSampai di Stasiun Cirebon, kami disambut oleh alunan “Warung Podjok” yang membuat Cirebon yang malam itu diguyur gerimis menjadi hangat. Well, nggak ada hubungannya sih emang, tapi kami seneng aja soalnya lagu itu salah satu lagu latihan kami waktu ber-pianika jaman SD. Tak lama menunggu, Mbak Wid pun sudah tiba di hadapan kami. Misi pertama adalah pencarian hotel. Meski sudah browsing soal penginapan, kami memang belum memesannya dari Jakarta. Kami ingin lihat dulu rupa kamar yang akan kami tempati. Banyak hotel murah tapi nyaman yang ada di sekitar stasiun, seperti Sidodadi, Amaris, Slamet, Langen Sari, Aurora Lama dan Aurora Baru.  Namun tak ada yang berhasil menjadi pilihan kami. Sebab kami ingin menginap di family room, tapi tak ada hotel yang membolehkan diisi oleh lima orang. Rada kesel sih sama pihak hotelnya, ditambah lagi hujan pula. Akhirnya, kami menerima tawaran Mbak Wid untuk menempati salah satu rumahnya. Awalnya nolak-nolak, akhirnya kami menginap di rumah Mba Wid dengan nyenyak. Alhamdulillah.

Sebelum istirahat, kami menyusun rencana petualangan esok hari. Selamat bermimpi.